BeritaInternasional

Iran Kaji Proposal Baru AS, Sinyal Kesepakatan Akhiri Konflik Kian Menguat

Avatar photo
8
×

Iran Kaji Proposal Baru AS, Sinyal Kesepakatan Akhiri Konflik Kian Menguat

Sebarkan artikel ini
Iran Kaji Proposal Baru AS, Sinyal Kesepakatan Akhiri Konflik Kian Menguat


PRESSCORNER.ID – ISLAMABAD/WASHINGTON/TEL AVIV. Iran menyatakan tengah mengkaji proposal terbaru dari Amerika Serikat, di tengah laporan bahwa Washington dan Teheran semakin dekat mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, seperti dikutip kantor berita ISNA menyebutkan bahwa Teheran akan segera menyampaikan responsnya melalui Pakistan, yang menjadi mediator utama dalam konflik ini.

Sumber diplomatik menyebutkan kedua pihak tengah membahas memorandum satu halaman berisi 14 poin yang bertujuan mengakhiri perang, sementara isu-isu krusial seperti program nuklir Iran akan dinegosiasikan pada tahap lanjutan.

Presiden AS Donald Trump dalam pernyataannya mengatakan perang dapat segera berakhir jika Iran menyetujui kesepakatan yang telah dirancang.

Namun, ia menegaskan masih terlalu dini untuk membahas pertemuan langsung guna menandatangani kesepakatan final.

Menurut sumber yang terlibat dalam proses mediasi, memorandum tersebut akan menjadi dasar dimulainya negosiasi lanjutan selama 30 hari.

Agenda pembahasan mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi AS terhadap Iran, serta pembatasan program nuklir Teheran.

Harga minyak anjlok

Optimisme terhadap potensi kesepakatan ini langsung berdampak pada pasar global. Harga minyak dunia merosot tajam, dengan kontrak minyak mentah Brent turun sekitar 11% ke kisaran US$98 per barel.

Selain itu, pasar saham global menguat dan imbal hasil obligasi turun, mencerminkan meningkatnya ekspektasi berakhirnya konflik yang selama ini mengganggu pasokan energi dunia.

Dalam pernyataannya, Trump juga menyinggung bahwa operasi militer AS seperti “Project Freedom” akan dihentikan jika kesepakatan tercapai, dan jalur pelayaran di Selat Hormuz akan kembali dibuka untuk semua pihak, termasuk Iran.

Namun, Trump juga melontarkan peringatan keras bahwa jika Iran menolak kesepakatan, aksi militer dengan intensitas lebih tinggi dapat kembali dilakukan.

Isu krusial belum dibahas

Meski demikian, sejumlah isu penting belum tercakup dalam proposal awal tersebut. Sumber menyebutkan dokumen itu belum memasukkan tuntutan lama AS, seperti pembatasan program rudal Iran dan penghentian dukungan terhadap kelompok milisi di Timur Tengah.

Selain itu, belum ada kejelasan terkait stok uranium Iran yang telah diperkaya hingga mendekati tingkat senjata, yang sebelumnya menjadi salah satu syarat utama Washington.

Seorang anggota parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, bahkan menyebut proposal tersebut lebih menyerupai “daftar keinginan Amerika” ketimbang kesepakatan yang realistis.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa negaranya hanya akan menerima kesepakatan yang “adil dan komprehensif”.

Operasi militer ditangguhkan

Sebelumnya, Trump mengumumkan penghentian sementara misi “Project Freedom”, operasi militer yang bertujuan mengawal kapal-kapal melintasi Selat Hormuz yang sempat diblokade.

Namun, misi tersebut belum berhasil memulihkan lalu lintas pelayaran secara signifikan dan justru memicu eskalasi serangan baru, termasuk terhadap kapal-kapal komersial dan target di negara-negara sekitar seperti Uni Emirat Arab.

Dalam insiden terbaru, sebuah perusahaan pelayaran Prancis melaporkan kapal kontainernya terkena serangan di Selat Hormuz, dengan sejumlah awak mengalami luka dan harus dievakuasi.