PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Indeks saham utama di Inggris melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Rabu (6/5/2026), didorong oleh optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran setelah konflik yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Harapan ini turut meredakan tekanan harga energi yang sebelumnya melonjak tajam dan memicu kekhawatiran inflasi.
Indeks blue-chip FTSE 100 naik 2,4% pada pukul 10.55 GMT, sementara indeks saham menengah FTSE 250 menguat 2,6% dan mencapai level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Sentimen positif juga terlihat di pasar global, di mana saham-saham menguat dan harga minyak mentah anjlok sekitar 8%. Penurunan ini terjadi setelah laporan menyebutkan bahwa Washington dan Teheran semakin dekat dengan kesepakatan berupa nota kesepahaman satu halaman untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk.
Hampir seluruh subsektor utama di pasar saham Inggris mencatat kenaikan, kecuali sektor energi. Indeks energi FTSE 350 Energy Index turun hampir 4%, seiring penurunan harga minyak mentah.
Sektor-sektor sensitif terhadap kondisi ekonomi seperti pertambangan logam, perbankan, perjalanan dan rekreasi, serta perumahan juga mencatat reli signifikan, mencerminkan meningkatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi global.
Di sisi kebijakan moneter, pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dari Bank of England tahun ini. Pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin hingga akhir 2026, turun dari ekspektasi sebelumnya yang mencapai lebih dari 60 basis poin.
Sementara itu, survei yang dirilis oleh S&P Global menunjukkan bahwa perusahaan jasa di Inggris mengalami percepatan tekanan biaya paling tajam dalam tiga setengah tahun terakhir pada bulan lalu. Hal ini dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar dan bahan baku akibat konflik Iran.
Dari sisi politik domestik, perhatian investor juga tertuju pada pemilihan lokal yang akan digelar pada Kamis. Pemilu ini berpotensi menjadi ujian bagi Perdana Menteri Keir Starmer, dengan Partai Buruh diperkirakan menghadapi tekanan setelah serangkaian skandal dan kritik terkait kinerja dalam meningkatkan standar hidup masyarakat.
Investor juga mewaspadai kemungkinan perubahan kepemimpinan jika tekanan politik terhadap Starmer meningkat.
Di tingkat emiten, saham Diageo melonjak 5,2% setelah produsen minuman beralkohol tersebut melampaui ekspektasi penjualan kuartal ketiga.
Sementara itu, saham Next naik 2,7% setelah perusahaan ritel pakaian tersebut melaporkan penjualan kuartal pertama yang lebih baik dari perkiraan. Perusahaan juga menyatakan akan mengimbangi kenaikan biaya akibat konflik Iran melalui penyesuaian harga secara moderat di beberapa pasar luar negeri.
Kenaikan pasar saham Inggris ini mencerminkan meredanya kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi dan stabilitas energi global, seiring harapan tercapainya resolusi konflik di kawasan Timur Tengah.











