BeritaBisnis

Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Fakta atau Sekadar Efek Belanja Pemerintah?

Avatar photo
9
×

Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Fakta atau Sekadar Efek Belanja Pemerintah?

Sebarkan artikel ini
Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Fakta atau Sekadar Efek Belanja Pemerintah?


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai 5,61% secara tahunan (year on year/YoY).

Capaian ini menjadi yang tertinggi untuk periode triwulan pertama dalam 13 tahun terakhir.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa angka tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan IV-2025 sebesar 5,39% YoY maupun triwulan I-2025 yang sebesar 4,87% YoY.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tercatat sebesar 5,61% YoY,” ujar Amalia dalam konferensi pers dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).

Secara nominal, Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp 6.187,2 triliun.

Capaian ini melampaui tren pertumbuhan triwulan I dalam satu dekade terakhir, yang sebelumnya cenderung berada di kisaran 5%.

Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi triwulan I sempat mencapai 6,03% YoY pada 2013.

Setelah itu, laju pertumbuhan cenderung stagnan di level 5% sebelum tertekan akibat pandemi Covid-19.

Lembaga riset GREAT Institute menilai, capaian tersebut menunjukkan adanya titik balik (inflection point) menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, mendekati level 6%.

GREAT Institute juga mengapresiasi kinerja pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, khususnya dalam menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.

Peneliti Ekonomi GREAT Institute Yossi Martino menilai, pertumbuhan ini tidak lepas dari strategi percepatan belanja negara (frontloading) yang dilakukan sejak awal tahun.

“Kami melihat strategi frontloading berhasil mendorong likuiditas di triwulan pertama. Data BPS mengonfirmasi bahwa injeksi fiskal tersebut berjalan efektif,” ujar Yossi.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 21,81% YoY.

Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52% dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) meningkat 5,96%.

Konsumsi rumah tangga dan investasi tersebut secara bersama-sama menyumbang sekitar 82,65% terhadap total PDB.

Dari sisi produksi, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14%, didorong oleh meningkatnya aktivitas ekonomi selama periode Ramadan dan Idulfitri.

Yossi menambahkan, strategi frontloading tidak hanya mempercepat realisasi anggaran, tetapi juga memperkuat transmisi kebijakan ke sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan konsumsi domestik.

Hal ini tercermin dari realisasi APBN hingga Maret 2026, di mana belanja negara mencapai Rp 815 triliun atau tumbuh 31,4% YoY. Belanja pemerintah pusat bahkan meningkat 47,7% YoY menjadi Rp 610,3 triliun.

Di sisi lain, percepatan belanja tersebut turut mendorong defisit APBN menjadi Rp 240,1 triliun atau sekitar 0,93% terhadap PDB.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di tengah adanya moderasi sentimen konsumen.

Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 125,2 pada Februari menjadi 122,9 pada Maret 2026, meski masih berada di zona optimistis.

“Tanpa intervensi fiskal seperti pencairan THR dan program perlindungan sosial, daya beli berpotensi melemah. Namun pemerintah berhasil menjaga konsumsi tetap tumbuh,” jelas Yossi.

Ke depan, GREAT Institute mendorong pemerintah untuk tetap berhati-hati dalam mengelola momentum pertumbuhan, terutama dalam menjaga keseimbangan antara stimulus fiskal dan keberlanjutan pembiayaan.

Jika momentum ini dapat dipertahankan, target pertumbuhan ekonomi pemerintah di kisaran 5,4%–5,6% pada 2026 dinilai masih realistis.

Namun demikian, Yossi menekankan perlunya dukungan kebijakan lanjutan, seperti percepatan insentif investasi, akselerasi hilirisasi, serta penguatan program perlindungan sosial yang inklusif.

“Percepatan belanja pemerintah perlu diiringi kebijakan pendukung agar pertumbuhan tetap berkelanjutan dan merata,” pungkasnya.