PRESSCORNER.ID – MANILA. Inflasi tahunan Filipina melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun pada April 2026, memicu spekulasi pasar terkait potensi lanjutan pengetatan kebijakan moneter.
Melansir Reuters, Selasa (5/5/2026), data otoritas statistik menunjukkan inflasi mencapai 7,2% secara tahunan (year on year/YoY), tertinggi sejak Maret 2023.
Angka ini melampaui proyeksi ekonom dalam jajak pendapat Reuters sebesar 5,5%, sekaligus berada di atas kisaran perkiraan bank sentral.
Lonjakan inflasi terutama dipicu kenaikan tajam harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Inflasi solar tercatat melonjak hingga 122,7%, sementara bensin naik 60% dan mencapai level tertinggi sepanjang data yang tersedia.
Kenaikan harga pangan, transportasi, dan utilitas juga turut mendorong tekanan inflasi pada bulan tersebut.
Secara bulanan, inflasi tercatat 2,6%, menjadi yang tertinggi dalam 26 tahun terakhir.
Ekonom Bank of the Philippine Islands Emilio Neri menilai bank sentral Filipina berpotensi mengambil langkah agresif, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga di luar jadwal (off-cycle).
“Kami tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan suku bunga di luar jadwal untuk menjaga inflasi tetap terkendali di tengah volatilitas global,” ujarnya.
Sebagai negara yang bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah, Filipina sangat rentan terhadap gejolak harga energi global.
Sepanjang Januari–April 2026, inflasi rata-rata tercatat 3,9%, mendekati batas atas target tahunan bank sentral di kisaran 2%–4%.
Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) menyatakan prospek inflasi semakin memburuk dan berpotensi melampaui target pada tahun ini maupun tahun depan.
Bank sentral juga mengingatkan adanya peningkatan ekspektasi inflasi yang berisiko mengganggu stabilitas harga dalam jangka menengah.
“BSP siap mengambil seluruh langkah kebijakan moneter yang diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke target,” tulis otoritas tersebut.
Sebelumnya, Bangko Sentral ng Pilipinas telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,50% pada bulan lalu.
Gubernur Eli Remolona juga membuka peluang kenaikan lanjutan jika tekanan harga terus berlanjut.
Rapat kebijakan moneter berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 18 Juni 2026.
Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi tercatat sebesar 3,9% YoY pada April.











