PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.424 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (5/5/2026) turut dibayangi meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia di mata investor global.
Hal ini tercermin dari posisi credit default swap (CDS) tenor 5 tahun Indonesia yang berada di level 90,57. Ini lebih tinggi dibandingkan negara kawasan seperti Singapura (23,25), Malaysia (38,04), dan Thailand (53,56).
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menjelaskan bahwa CDS merupakan instrumen manajemen risiko yang berfungsi layaknya asuransi terhadap kemungkinan gagal bayar suatu negara atau entitas.
Menurut Eddy, kenaikan premi CDS mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap suatu negara.
“Jadi, ada benarnya bahwa jika CDS premium meningkat, itu mengindikasikan risk perception yang lebih tinggi,” ujar Eddy kepada Kontan, Selasa (5/5/2026).
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aliran modal asing. Persepsi risiko yang meningkat dapat mendorong investor global untuk lebih berhati-hati, bahkan menarik dana dari pasar keuangan domestik, baik di pasar obligasi maupun saham.
Meski demikian, Eddy menilai fokus utama tidak hanya pada penyebab meningkatnya risiko, melainkan pada respons kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas.
Dari sisi otoritas moneter, ia menekankan pentingnya langkah terukur oleh Bank Indonesia (BI), seperti menjaga suku bunga acuan tetap stabil dan menurunkannya secara bertahap, serta melakukan intervensi terbatas di pasar valuta asing untuk menstabilkan rupiah.
Selain itu, pengendalian inflasi juga perlu dilakukan secara cepat dan ketat guna menjaga kepercayaan pasar.
Sementara dari sisi pemerintah, Eddy menilai diperlukan kebijakan fiskal yang efisien dan berorientasi pada peningkatan produktivitas domestik.
Pemerintah juga perlu mendorong kewirausahaan, memberikan insentif kepada dunia usaha, serta memastikan stabilitas politik, kepastian hukum, dan tata kelola yang baik.
“Yang lebih penting adalah bagaimana merancang dan mengimplementasikan solusi,” tegasnya.
Dihubungi terpisah, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyebut jika diukur dengan formula dasar, posisi rupiah saat ini mengalami undervalued.
Meski demikian, yang penting adalah bagaimana posisi nilai tukar rupiah di pasar.
“Karena ini mempertimbangkan sentimen dan psikologis investor, dinamika supply demand, serta faktor risiko akibat geopolitik dan ketidakpastian hukum dan regulasi di Indonesia,” ujar Wijayanto.
Lebih dalam, Wijayanto mengatakan pada periode enam bulan terakhir, rupiah melemah 85% mata uang di dunia, juga melemah terhadap mata uang di ASEAN seperti SGD, MYR, THB, VND. dan PHP.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan faktor domestik lebih dominan dalam penurunan nilai tukar ini, bukan faktor global.











