PRESSCORNER.ID – Harga minyak dunia terkoreksi pada perdagangan Selasa (5/5/2026), namun penurunannya terbatas seiring masih memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Koreksi terjadi sehari setelah Amerika Serikat (AS) meluncurkan operasi untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.
Melansir Reuters mengacu data pasar, harga minyak Brent turun US$ 1,38 atau 1,2% ke level US$ 113,06 per barel.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah US$ 2,21 atau 2,1% ke posisi US$ 104,26 per barel.
Sebelumnya, kedua acuan harga tersebut sempat melonjak signifikan pada sesi sebelumnya, masing-masing naik 5,8% untuk Brent dan 4,4% untuk WTI.
Analis pasar menilai, keberhasilan satu kapal yang melintas Selat Hormuz dengan pengawalan militer AS memberikan sinyal bahwa jalur distribusi masih dapat berfungsi, meski terbatas.
Namun demikian, kondisi tersebut dinilai belum mencerminkan pembukaan penuh jalur pelayaran.
“Ini lebih merupakan kejadian satu kali, bukan tanda bahwa jalur sudah benar-benar aman,” ujar analis pasar.
Ketegangan meningkat setelah Iran melancarkan serangan di kawasan Teluk sebagai respons atas upaya AS mengamankan kendali di Selat Hormuz.
Beberapa kapal dagang dilaporkan mengalami ledakan dan kebakaran, sementara sebuah pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab turut terdampak serangan rudal.
Di sisi lain, militer AS mengklaim telah menghancurkan sejumlah kapal kecil Iran, serta rudal jelajah dan drone.
Pelaku pasar menilai pergerakan harga minyak saat ini masih sangat volatil, dipengaruhi perkembangan situasi keamanan di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dan gas global.
Meski harga sempat terkoreksi, analis menilai penurunan ini lebih disebabkan aksi ambil untung jangka pendek, bukan perbaikan fundamental pasokan.
Dengan demikian, risiko lonjakan harga masih terbuka apabila eskalasi konflik kembali meningkat.











