PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Seni dan budaya tidak lagi dipandang semata sebagai ekspresi kreatif. Kini semakin memainkan peran strategis dalam memperkuat hubungan bisnis internasional dan membuka peluang perdagangan baru.
Di tengah persaingan global yang kian kompleks, pendekatan berbasis budaya dinilai mampu menciptakan koneksi yang lebih dalam, membangun kepercayaan, sekaligus memperluas jejaring lintas negara.
Di Indonesia, integrasi seni, budaya dan aktivitas ekonomi mulai terlihat dalam berbagai inisiatif yang menghubungkan ekosistem kreatif dengan perdagangan global.
Salah satu upaya tersebut dilakukan World Trade Center (WTC) Jakarta melalui program Art at WTC yang berjalan sejak tahun 2013. Program jangka panjang yang diinisiasi oleh Jakarta Land ini menghadirkan berbagai pameran seni dan budaya yang menampilkan karya seniman Indonesia maupun internasional.
WTC Jakarta berupaya menciptakan lingkungan bisnis yang tidak hanya berfokus pada aktivitas ekonomi, tetapi juga mendorong kesadaran budaya, dialog lintas sektor, serta konektivitas komunitas global.
Salah satu pameran dalam program tersebut adalah Sandang Sanding Agraria belum lama ini. Pameran ini digelar bersama kurator dan penyelenggara ISA Art & Design di lobi utama WTC 3, Jakarta dan menarik sekitar 17.000 pengunjung dari dalam dan luar negeri.
Pameran ini mengangkat tradisi tekstil agraria dari Tuban, Jawa Timur, melalui karya Tenun Gedog dan Batik Tuban. Kedua tradisi tersebut merepresentasikan hubungan erat antara manusia dan alam. termasuk siklus pertanian, kesadaran lingkungan, serta keterampilan kerajinan yang banyak dikembangkan oleh perempuan.
Managing Director WTC Jakarta, William Chai menjelaskan, Art at WTC merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengintegrasikan seni dan budaya dalam kawasan bisnis internasional.
“Pameran Sandang Sanding Agraria menjadi contoh bagaimana program budaya di kawasan perdagangan dapat menciptakan keterlibatan yang bermakna antara sistem wawasan lokal dengan audiens internasional,” ujar dia, dalam keterangan resmi, Kamis (23/4).
Pendekatan ini sejalan dengan perkembangan sektor ekonomi kreatif Indonesia yang terus menunjukkan kontribusi positif terhadap perekonomian. Dengan pertumbuhan mencapai 5,69% dan nilai ekspor sebesar US$ 12,89 miliar, sektor ini semakin dipandang sebagai pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas peluang perdagangan global.
Minat terhadap seni juga terus meningkat, terlihat dari berbagai pameran berskala internasional seperti ArtJog, Art Jakarta, Art Moment, dan Art Subs. Di sisi lain, karya seniman Indonesia semakin mendapat pengakuan global.
I Nyoman Masriadi, misalnya, mencatat sejarah sebagai seniman Asia Tenggara pertama yang karyanya terjual lebih dari US$ 1 juta di Sotheby’s Hong Kong. Sementara itu, Eko Nugroho aktif menggelar pameran di berbagai institusi seni internasional seperti Mori Art Museum dan Palais de Tokyo.
Integrasi seni dan budaya dalam ekosistem bisnis juga semakin terlihat dalam jaringan perdagangan global. World Trade Centers Association (WTCA) turut mendorong pendekatan ini melalui berbagai forum internasional yang menggabungkan unsur budaya, warisan lokal, dan pengalaman berbasis tempat (place-based experiences).
Chair Board of Directors WTCA, John E. Drew menambahkan, bisnis WTC di seluruh dunia melihat bagaimana seni dan budaya dapat memperkaya bangunan mereka, aktivitas bisnis, serta konferensi dan pameran yang mereka selenggarakan. “Global Business Forum adalah tempat di mana koneksi tersebut benar-benar terwujud,” kata John.
Bagi pelaku usaha Indonesia, forum ini menjadi peluang strategis untuk memperluas jaringan internasional sekaligus mempromosikan sektor unggulan nasional. Termasuk ekonomi kreatif.











