Bisnis

Ekonomi Awal 2026 Masih Tahan Banting, Tapi Awan Tekanan Mulai Menggelayut

Avatar photo
12
×

Ekonomi Awal 2026 Masih Tahan Banting, Tapi Awan Tekanan Mulai Menggelayut

Sebarkan artikel ini
Ekonomi Awal 2026 Masih Tahan Banting, Tapi Awan Tekanan Mulai Menggelayut


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Perekonomian Indonesia pada kuartal I-2026 diperkirakan masih menunjukkan daya tahan di tengah tekanan global, terutama akibat konflik di Timur Tengah.

Namun, sinyal perlambatan mulai terlihat dan tekanan diperkirakan akan kian terasa memasuki kuartal II-2026.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut, sejumlah indikator terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini tetap terjaga. Motor utamanya datang dari permintaan domestik yang solid.

Konsumsi rumah tangga meningkat, ditopang oleh keyakinan pelaku ekonomi serta kondisi pendapatan masyarakat yang relatif stabil. Momentum Ramadan dan Idulfitri turut memberi dorongan tambahan pada aktivitas belanja masyarakat.

Dari sisi fiskal, belanja pemerintah juga berperan menjaga laju ekonomi. Penyaluran tunjangan hari raya (THR), peningkatan belanja sosial, serta pemberian berbagai insentif, termasuk transfer ke daerah, mendorong perputaran uang di masyarakat. 

Sementara itu, investasi, khususnya di sektor bangunan, tetap tumbuh positif seiring percepatan proyek-proyek prioritas pemerintah.

Meski demikian, Bank Indonesia menilai sinergi kebijakan antara pemerintah dan otoritas moneter tetap krusial untuk menjaga momentum tersebut.

BI menegaskan akan memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, serta sistem pembayaran yang terintegrasi dengan kebijakan pemerintah. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan dalam kisaran 4,9%–5,7%,” ujar Perry.

Di sisi lain, peringatan datang dari kalangan ekonom. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai tekanan ekonomi berpotensi meningkat pada kuartal II-2026.

Ia memperkirakan pertumbuhan bisa melambat ke kisaran 4,7% hingga 4,9%.

Bhima menjelaskan, kombinasi tekanan eksternal dan domestik menjadi faktor utama. Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga energi dan pangan, hingga risiko fenomena super El Nino serta potensi krisis bahan baku pupuk dapat mengganggu produksi pangan nasional.

Tekanan tersebut berpotensi meningkatkan biaya hidup masyarakat, khususnya kelas menengah, yang selama ini menjadi penopang konsumsi domestik. Jika kondisi ini berlanjut, daya beli bisa tergerus dan masyarakat cenderung menahan belanja. 

“Masyarakat akan menghadapi cost of living crisis,” ujar Bhima, menggambarkan potensi perubahan perilaku konsumsi yang lebih berhati-hati.

Dengan kombinasi ketahanan awal tahun dan ancaman tekanan ke depan, arah ekonomi Indonesia pada 2026 akan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga konsumsi domestik sekaligus meredam lonjakan biaya hidup.