BeritaInternasional

Houthi Serang Marib Lagi, PBB Peringatkan Yaman di Ambang Konflik Lebih Luas

Avatar photo
11
×

Houthi Serang Marib Lagi, PBB Peringatkan Yaman di Ambang Konflik Lebih Luas

Sebarkan artikel ini
Houthi Serang Marib Lagi, PBB Peringatkan Yaman di Ambang Konflik Lebih Luas


PRESSCORNER.ID – Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran kembali melancarkan serangan rudal balistik dan drone ke Kota Marib, Yaman, pada Jumat (7/8/2026).

Serangan tersebut menyasar kamp pengungsian dan kawasan permukiman. Sedikitnya dua orang tewas dan 14 lainnya terluka, menurut kantor berita pemerintah Yaman SABA yang mengutip otoritas setempat.

Tentara Yaman pada Sabtu (8/8) mengatakan telah merespons serangan terhadap pasukan Houthi di sejumlah garis kontak.

Militer Yaman tidak merinci operasi tersebut maupun waktu pelaksanaannya. Namun, mereka menyatakan akan mengambil langkah militer yang diperlukan jika Houthi kembali menargetkan unit-unit mereka.

Pertukaran serangan tersebut menandai eskalasi tajam antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Dalam beberapa tahun terakhir, pertempuran berskala besar antara kedua pihak relatif mereda. Kondisi terbaru tersebut memunculkan kekhawatiran konflik kembali meluas.

Konflik Berpotensi Meluas

Eskalasi terjadi ketika perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah meluas ke sejumlah wilayah di Timur Tengah.

Seorang pejabat senior Arab Saudi pada Kamis (6/8) mengatakan Riyadh memperkirakan serangan terkoordinasi dari Houthi di Yaman dan kelompok milisi di Irak yang berada di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Iran maupun sekutunya di Yaman dan Irak belum memberikan tanggapan atas pernyataan tersebut.

Houthi pada Jumat mengklaim telah menargetkan pasukan yang didukung Arab Saudi, depot, kendaraan dan peralatan militer di kamp Sahn al-Jinn di Marib menggunakan rudal dan drone.

Reuters tidak dapat memverifikasi klaim dari kedua pihak secara independen.

Serangan tersebut terjadi sehari setelah sedikitnya 30 tentara pemerintah Yaman tewas dalam serangan terhadap kamp militer di Provinsi Marib dan Hadramawt, menurut sejumlah sumber pemerintah.

Houthi juga mengaku bertanggung jawab atas serangan pada Kamis (6/8).

Kelompok tersebut menyatakan telah menyerang posisi militer Arab Saudi di kedua provinsi setelah mendeteksi peningkatan besar pasukan Saudi yang disebut sebagai persiapan untuk melakukan eskalasi di wilayah yang dikuasai Houthi.

PBB Peringatkan Risiko Konflik Besar

Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg mengatakan serangkaian serangan terbaru di Marib dan Hadramawt, ditambah kembali meningkatnya serangan terhadap kapal komersial di Laut Merah dan Teluk Aden, membuat Yaman menghadapi risiko terbesar untuk kembali memasuki konflik berskala besar sejak gencatan senjata yang dimediasi PBB pada April 2022.

Grundberg mendesak seluruh pihak menahan diri semaksimal mungkin dan kembali terlibat dalam perundingan yang dipimpin PBB.

Menurutnya, kekerasan terbaru berisiko menyeret Yaman lebih dalam ke dalam konflik regional yang lebih luas.

Dewan Keamanan PBB juga menyatakan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan di Yaman.

Dewan Keamanan menilai perkembangan terbaru mengancam keamanan regional serta hak dan kebebasan navigasi.

Eskalasi juga dinilai dapat memperburuk situasi dan menghambat upaya perdamaian.

Dewan Keamanan PBB mendesak Houthi menahan diri dari eskalasi dan mendorong seluruh pihak menggunakan jalur dialog yang tersedia untuk meredakan ketegangan.

Houthi pada bulan lalu menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah.

Kelompok tersebut menyebut langkah itu sebagai respons terhadap apa yang mereka klaim sebagai blokade Saudi terhadap Yaman, tuduhan yang dibantah Riyadh.

Arab Saudi telah memimpin koalisi militer yang mendukung pemerintah Yaman sejak 2015, setelah Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014.

Perang tersebut telah menghancurkan Yaman dan memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Gencatan senjata pada 2022 menghentikan operasi militer ofensif di dalam Yaman maupun lintas perbatasan dan menyebabkan penurunan tajam intensitas pertempuran.

Gencatan senjata tersebut dua kali diperpanjang sebelum secara resmi berakhir pada Oktober 2022.

Namun, pertempuran berskala besar tidak langsung kembali terjadi sehingga Yaman memasuki periode relatif tenang.