PRESSCORNER.ID – NEW YORK. Gubernur bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed), Christopher Waller, mengatakan bahwa bank sentral AS mungkin perlu menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat apabila data ekonomi mendatang menunjukkan inflasi masih bertahan jauh di atas target 2%.
Dalam pidatonya di hadapan New York Association for Business Economics pada Senin (13/7/2026), Waller menggambarkan kebijakan moneter AS saat ini berada di “persimpangan jalan”.
Ia menegaskan bahwa keputusan The Fed selanjutnya akan sangat bergantung pada data inflasi, dimulai dari laporan indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) yang dijadwalkan dirilis pada Selasa.
Waller menekankan bahwa The Fed tidak boleh bersikap santai apabila data inflasi kembali menunjukkan kenaikan.
“Hanya menatap inflasi dengan tegas hingga akhirnya mencair karena tatapan kita bukanlah sebuah pilihan,” ujar Waller, yang disambut tawa para ekonom yang menghadiri pidatonya.
Menurut Waller, selama lima hingga enam bulan terakhir, angka inflasi terus menunjukkan tren kenaikan.
“Pada dasarnya, kita telah melewati hampir lima hingga enam bulan dengan angka inflasi yang terus lebih tinggi. Jika saya kembali mendapatkan angka yang lebih tinggi, saya akan menganggapnya sebagai sinyal, bukan sekadar gangguan statistik,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kembali memanasnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran, yang telah mendorong harga minyak dunia kembali naik.
Waller menilai masih ada kemungkinan inflasi dapat kembali menuju target 2% tanpa perubahan kebijakan saat ini. Namun, ia juga mengakui adanya risiko bahwa tekanan harga akan tetap tinggi atau bahkan meningkat dalam beberapa pekan mendatang.
“Masih ada alasan yang kuat untuk percaya bahwa inflasi akan mulai turun kembali menuju target 2% dengan kebijakan saat ini. Namun, saya juga khawatir terhadap kemungkinan yang sama besarnya bahwa data dalam beberapa minggu ke depan akan menunjukkan inflasi tetap tinggi atau bahkan terus meningkat, sehingga memerlukan kebijakan moneter yang lebih ketat dalam waktu dekat,” ujar Waller.
Tekanan Inflasi Dinilai Semakin Meluas
Waller mengatakan kekhawatiran utamanya berasal dari laporan inflasi terbaru yang menunjukkan tekanan harga mulai menyebar ke berbagai sektor ekonomi, melampaui dampak kenaikan tarif impor tahun lalu maupun lonjakan harga energi belakangan ini.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat mencerminkan inflasi yang lebih sistemik dan membutuhkan respons kebijakan moneter yang lebih ketat.
Ia mencatat bahwa hampir 70% kategori jasa inti, yang menyumbang sekitar 75% dari komponen harga inti, mencatat inflasi di atas 3% baik dalam periode tiga bulan maupun 12 bulan terakhir.
Meski situasi saat ini belum sebanding dengan lonjakan inflasi pascapandemi Covid-19, ketika pasar tenaga kerja berada dalam kondisi sangat ketat, Waller mengingatkan bahwa The Fed memiliki keuntungan berupa ekspektasi inflasi yang masih terkendali.
Keuntungan tersebut, menurutnya, tidak boleh disia-siakan dengan menunda kenaikan suku bunga terlalu lama.
“Saya tidak menganggap enteng sinyal inflasi yang saya bahas hari ini. Jika pekan ini kita kembali mendapatkan angka inflasi inti yang tinggi, maka Federal Open Market Committee (FOMC) perlu mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter dalam waktu dekat,” kata Waller.
Ia menambahkan bahwa diperlukan “beberapa bulan berturut-turut dengan data yang lebih rendah” agar The Fed dapat yakin inflasi benar-benar bergerak ke arah yang diinginkan.
Saat ini, pelaku pasar keuangan memperkirakan peluang sekitar 40% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli, sementara peluang kenaikan suku bunga pada September dinilai jauh lebih besar.
Meski demikian, Waller menegaskan bahwa dirinya tidak ingin menaikkan suku bunga terlalu cepat dan memicu resesi. Namun, ia menilai pasar tenaga kerja AS masih stabil dan The Fed perlu menghindari kesalahan beberapa tahun lalu, ketika respons terhadap kenaikan harga dinilai terlambat.
Pada pertemuan 16–17 Juni lalu, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Saat itu, para pembuat kebijakan terbelah mengenai perlunya kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini.
Waller Dorong Komunikasi yang Lebih Terbuka
Pernyataan tegas Waller mengenai kemungkinan langkah The Fed berikutnya berbeda dengan pendekatan komunikasi Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, yang cenderung lebih berhati-hati dalam mengungkapkan arah kebijakan.
“Anda ingin pasar memiliki informasi sebanyak mungkin. Mengejutkan publik bukanlah ide yang baik,” ujar Waller.
Ia juga menyatakan bahwa The Fed akan memperoleh banyak pelajaran dari lima gugus tugas yang dibentuk Warsh untuk merumuskan rekomendasi terkait pembaruan kerangka kebijakan moneter.
Waller turut mengusulkan sejumlah perubahan, termasuk memangkas horizon proyeksi para pembuat kebijakan dari tiga tahun menjadi 18 bulan serta mengubah waktu publikasi proyeksi tersebut menjadi satu hari lebih lambat dibanding praktik saat ini.
Terkait neraca keuangan The Fed, yang menurut Warsh perlu diperkecil, Waller mengatakan dirinya tidak melihat masalah dengan besarnya neraca bank sentral AS saat ini. Namun, ia berharap komposisi aset The Fed suatu saat dapat kembali didominasi obligasi pemerintah AS seperti sebelum krisis keuangan 2007–2009.
“Saya tidak tahu bagaimana kita bisa melakukannya. Mungkin kita membutuhkan satu dekade lagi untuk benar-benar melepaskan aset-aset ini. Mungkin kita bisa menukarnya dengan Greenland atau semacamnya, saya tidak tahu,” canda Waller.
Mengenai target inflasi, Waller menolak gagasan untuk menghapus target numerik sepenuhnya.
“Dalam dunia seperti itu, inflasi akan menjadi seperti pornografi—saya tidak bisa mendefinisikannya, tidak bisa mengukurnya, tetapi saya tahu ketika melihatnya—dan itulah bukan cara bank sentral seharusnya memandang inflasi,” ujarnya.
Namun, ia menilai bahwa penerapan target inflasi dalam bentuk rentang, misalnya 1,5% hingga 2,5%, dapat menjadi pendekatan yang masuk akal. Warsh sebelumnya juga mengisyaratkan dukungannya terhadap pendekatan tersebut dengan menyatakan fokus pada angka “di sebelah kiri tanda desimal”.
Ketika ditanya gugus tugas mana yang ingin dipimpinnya, Waller menolak memberikan jawaban tegas sambil menyinggung ambisi Warsh untuk melakukan reformasi besar di tubuh The Fed.
“Jika Anda sedang melakukan perubahan rezim, Anda tidak akan meminta rezim yang sedang berkuasa untuk memimpin gugus tugas tersebut,” tutup Waller.











