BeritaBisnis

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus US$ 433,4 Miliar Kuartal I-2026, Ini Perinciannya

Avatar photo
8
×

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus US$ 433,4 Miliar Kuartal I-2026, Ini Perinciannya

Sebarkan artikel ini
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus US$ 433,4 Miliar Kuartal I-2026, Ini Perinciannya


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat mencapai US$ 433,4 miliar atau setara Rp 7.660 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.674 per dolar AS.

Bank Indonesia dalam laporannya menyebutkan, secara kuartalan atau quarter to quarter (qtq), ULN Indonesia tumbuh 0,8%, melambat dibandingkan pertumbuhan pada kuartal IV 2025 yang mencapai 1,9%.

Secara bulanan, posisi ULN juga lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang mencapai US$ 437,9 miliar. Sementara secara tahunan atau year on year (yoy), ULN meningkat dibandingkan kuartal I 2025 yang tercatat sebesar US$ 195,5 miliar atau tumbuh 121,6% yoy.

“Perkembangan posisi ULN tersebut dipengaruhi oleh ULN sektor publik dan ULN sektor swasta. ULN pemerintah tumbuh lebih rendah, dan ULN swasta menurun,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Denny Ramdan dalam keterangan resminya, Senin (18/5/2026).

ULN Pemerintah Tumbuh Lebih Rendah

ULN pemerintah pada kuartal I 2026 tercatat sebesar US$ 214,7 miliar atau tumbuh 3,8% secara qtq. Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan kuartal IV 2025 yang mencapai 5,5% qtq.

Menurut Bank Indonesia, perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh aliran modal asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional seiring masih terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Sebagai instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan sektor, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk:

  • Jasa kesehatan dan kegiatan sosial: 22,1%
  • Administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib: 20,2%
  • Jasa pendidikan: 16,2%
  • Konstruksi: 11,5%
  • Transportasi dan pergudangan: 8,5%

Struktur ULN pemerintah juga masih sangat dominan dalam utang jangka panjang, mencapai 99,99% dari total ULN pemerintah.

ULN Swasta Mengalami Kontraksi

Di sisi lain, ULN swasta tercatat menurun. Pada kuartal I 2026, posisinya sebesar US$ 191,4 miliar, turun dari kuartal IV 2025 yang mencapai US$ 194,2 miliar.

Secara qtq, ULN swasta mengalami kontraksi 1,8%, baik pada kelompok lembaga keuangan (financial corporations) maupun perusahaan nonkeuangan (nonfinancial corporations).

ULN lembaga keuangan tercatat turun 3,6% qtq, sementara ULN perusahaan nonkeuangan terkontraksi 1,3% qtq.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta didominasi oleh:

  • Industri pengolahan
  • Jasa keuangan dan asuransi
  • Pengadaan listrik dan gas
  • Pertambangan dan penggalian

Keempat sektor tersebut menyumbang sekitar 80,4% dari total ULN swasta.

Selain itu, ULN swasta juga masih didominasi utang jangka panjang dengan pangsa 76,6%.

Struktur ULN Indonesia Masih Sehat

Bank Indonesia menilai struktur ULN Indonesia tetap sehat dan terjaga, seiring penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,5% pada kuartal I 2026 dari 30,0% pada kuartal IV 2025.

Secara keseluruhan, struktur ULN nasional juga masih didominasi utang jangka panjang dengan pangsa 85,4% dari total ULN.

“Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN,” ujar Denny.

Ke depan, BI menegaskan bahwa ULN akan terus dioptimalkan sebagai sumber pembiayaan pembangunan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi dan meminimalkan risiko eksternal.