BeritaInternasional

Iran Tegaskan Hanya Mau Kesepakatan Komprehensif dengan AS

Avatar photo
4
×

Iran Tegaskan Hanya Mau Kesepakatan Komprehensif dengan AS

Sebarkan artikel ini
Iran Tegaskan Hanya Mau Kesepakatan Komprehensif dengan AS


PRESSCORNER.ID – Iran menegaskan hanya akan menerima “kesepakatan yang adil dan komprehensif” dalam negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah, di tengah klaim Presiden AS Donald Trump soal kemajuan signifikan dalam proses perundingan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan, Teheran akan tetap mempertahankan kepentingan nasionalnya dalam setiap pembicaraan dengan Washington.

“Kami akan melakukan yang terbaik untuk melindungi hak dan kepentingan sah kami dalam negosiasi. Kami hanya menerima kesepakatan yang adil dan komprehensif,” ujar Araqchi di Beijing, Rabu (6/5/2026), usai bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dilansir dari Reuters.

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump menyebut telah terjadi “kemajuan besar” menuju kesepakatan final antara kedua negara.

Bahkan, Trump sempat mengumumkan jeda sementara operasi pengawalan kapal oleh militer AS di Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya mendorong tercapainya perjanjian.

Selat Hormuz sendiri menjadi titik krusial dalam konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu, ketika serangan udara AS dan Israel terhadap Iran memicu eskalasi.

Jalur tersebut nyaris tertutup, menghambat sekitar 20% pasokan minyak global dan memicu krisis energi dunia.

Meski demikian, Araqchi tidak secara langsung menanggapi tawaran jeda operasi tersebut. Ia justru menekankan bahwa kesepakatan damai harus memenuhi prinsip keadilan dan mencakup seluruh aspek yang menjadi kepentingan Iran.

Di sisi lain, harga minyak dunia mulai mereda seiring harapan tercapainya kesepakatan. Kontrak berjangka Brent turun sekitar 1,2% ke level US$ 108,60 per barel, setelah sebelumnya juga melemah signifikan pada sesi perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi ke kisaran US$ 101,06 per barel.

Gedung Putih belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai progres negosiasi maupun durasi jeda operasi militer tersebut.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Iran tidak boleh mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz.

Ketegangan di kawasan itu meningkat setelah Iran mengancam menutup jalur tersebut menggunakan ranjau laut, drone, dan rudal, sementara AS merespons dengan blokade pelabuhan Iran serta pengawalan kapal komersial.

Meski sempat terjadi bentrokan, gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung selama empat pekan masih bertahan hingga kini.

Trump juga menyatakan bahwa Iran menunjukkan keinginan untuk berdamai, meskipun retorika publik dari Teheran masih terkesan keras.

Konflik ini telah menelan ribuan korban jiwa dan meluas ke wilayah Lebanon serta negara-negara Teluk, sekaligus mengguncang perekonomian global.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan dampak ekonomi dari konflik ini masih akan terasa hingga tiga sampai empat bulan ke depan, bahkan jika perang berakhir dalam waktu dekat.

Namun hingga saat ini, upaya diplomatik belum menghasilkan kesepakatan konkret. Meski kedua pihak telah melakukan satu putaran perundingan langsung, pembahasan lanjutan masih belum menemukan titik temu.