PRESSCORNER.ID – Performa Chelsea kian terpuruk. Kekalahan 1-3 dari Nottingham Forest pada Senin (4/5/2026) membuat klub asal London itu mencatatkan enam kekalahan beruntun di Premier League, rekor terburuk dalam 33 tahun terakhir sejak 1993.
Situasi ini jauh dari ekspektasi para pemilik klub sejak akuisisi empat tahun lalu. Bahkan, Chelsea nyaris mencatat rekor lebih buruk lagi, yakni enam laga tanpa mencetak gol, sebelum gol salto spektakuler João Pedro di menit ke-93 menyelamatkan muka tim.
Melansir Reuters, keterpurukan Chelsea terlihat di semua lini. Serangan tumpul, lini tengah mudah ditembus, dan pertahanan rapuh membuat tim asuhan pelatih interim Calum McFarlane kesulitan bersaing.
Sebaliknya, Forest tampil dominan meski melakukan delapan rotasi pemain oleh pelatih Vítor Pereira.
Gol ketiga Forest yang dicetak Taiwo Awoniyi pada menit ke-52 memicu kekecewaan suporter di Stamford Bridge. Sorakan keras bahkan ditujukan kepada konsorsium pemilik klub asal Amerika Serikat.
Ironisnya, Chelsea telah menggelontorkan dana lebih dari £1 miliar untuk belanja pemain sejak akuisisi.
Sempat muncul harapan saat mereka menjuarai Piala Dunia Antarklub dan kompetisi kasta ketiga Eropa musim panas lalu, namun performa justru anjlok sejak Maret, termasuk kekalahan telak dari Paris Saint-Germain di Liga Champions.
Krisis ini juga berujung pada pemecatan pelatih Liam Rosenior, hanya tiga bulan setelah menggantikan Enzo Maresca.
Meski sudah aman dari degradasi, Chelsea terancam mengakhiri musim di papan bawah. Mereka kini hanya terpaut lima poin dari Leeds United di posisi ke-14—yang merupakan rekor posisi terburuk klub pada musim 1993-94.
Chelsea masih memiliki peluang meraih trofi di final FA Cup Final melawan Manchester City pada 16 Mei.
Namun, absennya tiket kompetisi Eropa musim depan berpotensi memperburuk kondisi finansial klub, yang baru saja mencatat kerugian tahunan terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris, yakni £262,4 juta.
Legenda sepak bola Inggris Jamie Carragher menilai masalah Chelsea lebih dalam dari sekadar performa di lapangan.
“Ini menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya soal belanja pemain. Yang terpenting adalah kebersamaan, dan saat ini itu tidak terlihat di Chelsea. Mereka seperti klub yang rusak,” ujarnya.











