PRESSCORNER.ID – LONDON. Harga minyak dunia melonjak tajam pada awal pekan setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Minyak mentah Brent tercatat naik lebih dari 5% pada perdagangan Senin, dipicu oleh laporan aktivitas militer di sekitar jalur strategis Selat Hormuz.
Sentimen pasar semakin diperburuk oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS), serta pelemahan di pasar saham dan obligasi global akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko pasokan energi.
Ketegangan Militer Picu Lonjakan Harga Minyak
Menurut laporan media Iran, angkatan laut negara tersebut disebut telah mencegah kapal perang Amerika Serikat memasuki Selat Hormuz. Selain itu, kantor berita Fars melaporkan adanya serangan rudal terhadap kapal perang AS di dekat Jask, wilayah Teluk Oman, setelah kapal tersebut diduga mengabaikan peringatan Iran.
Namun, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Komando Pusat AS (U.S. Central Command) melalui media sosial menyatakan tidak ada kapal yang terkena serangan.
Di tengah eskalasi tersebut, militer Iran sebelumnya juga mengeluarkan peringatan kepada pasukan AS terkait aktivitas di sekitar Selat Hormuz, terutama setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai rencana membantu pembebasan kapal-kapal yang terjebak di kawasan Teluk.
Brent Naik Tajam, Pasar Saham Tertekan
Di pasar komoditas, harga minyak Brent sempat melonjak lebih dari US$5 menjadi US$113,65 per barel setelah sebelumnya mengalami penurunan di sesi perdagangan Asia.
Sementara itu, tekanan geopolitik juga memukul pasar keuangan global. Kontrak berjangka saham AS melemah, begitu juga dengan pasar saham Eropa dan obligasi pemerintah.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 tercatat turun 0,5%, sementara Euro STOXX 50 melemah 1,2%. Di Jerman, imbal hasil obligasi 10 tahun naik 4 basis poin menjadi 3,073%, mencerminkan tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi.
Kekhawatiran Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga
Analis menilai lonjakan harga minyak dapat menambah tekanan inflasi global, meskipun keberlanjutan tren kenaikan harga masih dipertanyakan.
“Pasar saat ini terbelah antara risiko geopolitik yang mendorong harga minyak naik dan kekhawatiran perlambatan ekonomi, terutama di Amerika Serikat,” ujar Bruno Schneller dari Erlen Capital Management.
Sementara itu, sejumlah bank sentral global mulai bersikap lebih hawkish. Pelaku pasar bahkan menilai peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve AS semakin kecil, bahkan sebagian memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga di masa mendatang.
Pasar Saham Global Berfluktuasi
Di sisi lain, indeks saham global menunjukkan pergerakan beragam. Indeks MSCI global di luar Jepang masih mencatat kenaikan, didorong penguatan saham Asia, termasuk pasar Korea Selatan yang naik lebih dari 5%.
Namun, pasar Eropa melemah setelah tekanan pada saham produsen otomotif Jerman, menyusul pernyataan kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat terhadap kendaraan asal Eropa.
Pasar Valas dan Emas Ikut Bergejolak
Di pasar valuta asing, nilai tukar yen Jepang sempat menguat tajam sebelum kembali berfluktuasi terhadap dolar AS di level 156,93 yen per dolar. Sementara itu, euro melemah tipis ke US$1,17 dan pound sterling turun ke US$1,3547.
Di pasar komoditas lain, harga emas juga terkoreksi lebih dari 1% menjadi sekitar US$4.551 per ons, seiring penguatan dolar dan meningkatnya volatilitas pasar global.











