BeritaBisnis

Indeks Manufaktur Turun pada April 2026, Purbaya Yakinkan Ini Bukan Alarm Krisis

Avatar photo
12
×

Indeks Manufaktur Turun pada April 2026, Purbaya Yakinkan Ini Bukan Alarm Krisis

Sebarkan artikel ini
Indeks Manufaktur Turun pada April 2026, Purbaya Yakinkan Ini Bukan Alarm Krisis


PRESSCORNER.ID-JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia ke level 49,1 pada April 2026 belum menjadi sinyal kehancuran ekonomi.

Menurutnya, angka tersebut lebih mencerminkan ekspektasi pelaku usaha yang sedang tertahan oleh sentimen negatif, baik dari dalam maupun luar negeri.

Ia menjelaskan, PMI merupakan survei terhadap para manajer pembelian terkait rencana belanja dan ekspansi usaha ke depan. 

Dalam indikator ini, angka 50 menjadi batas netral. Apabila di atas 50 menandakan ekspansi, sedangkan di bawah 50 menunjukkan perlambatan, bukan langsung kontraksi tajam atau resesi.

Purbaya menilai, persepsi negatif yang berkembang di ruang publik juga ikut mempengaruhi ekspektasi pelaku usaha. Ia menyinggung maraknya narasi pesimistis di media sosial yang menyebut Indonesia menuju krisis ekonomi.

Di sisi lain, ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik, membuat pelaku industri cenderung menahan ekspansi. Dalam kondisi seperti itu, kata dia, wajar jika responden survei PMI menunjukkan sikap hati-hati.

“Kan ini banyak berita negatif, teman-teman Anda juga di TikTok jelek-jelekin jadi kita mau krisis katanya. Itu mungkin antara lain yang menimbulkan sedikit negatif sentimen. Di samping itu juga kan globalnya lagi begini. Kalau Anda lagi menghadapi keadaan seperti itu ditanya ekspansi apa enggak? Kan pasti ragu,” ujar Purbaya kepada awak media di Jakarta, Senin (4/5).

Meski demikian, pemerintah memastikan akan merespons kondisi ini dengan memperkuat stimulus ekonomi, khususnya untuk sektor manufaktur. Berbagai instrumen kebijakan, termasuk insentif, tengah disiapkan untuk mendorong aktivitas industri dan memperbaiki ekspektasi pelaku usaha.

“Kita akan dorong sektor manufaktur dan yang lain-lain dengan menambah insentif-insentif ke perekonomian biar ekonominya berjalan lebih cepat,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa perbaikan tidak cukup hanya melalui komunikasi, melainkan harus diikuti kebijakan nyata. Pemerintah, lanjutnya, berupaya menunjukkan sinyal pemulihan agar pelaku usaha kembali percaya diri dalam berinvestasi dan meningkatkan belanja.

Sebagai pembanding, Purbaya menyebut indikator konsumsi seperti Mandiri Spending Index (MSI) justru menunjukkan tren kenaikan yang cukup kuat. 

Hal ini, menurutnya, mengindikasikan bahwa fundamental domestik masih relatif terjaga dan tidak sepenuhnya mencerminkan kekhawatiran berlebihan.