PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali menahan suku bunga acuan atau BI rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar 21–22 April 2026.
Keputusan ini dinilai sebagai langkah menjaga keseimbangan antara stabilitas inflasi dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Inflasi menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan bank sentral. Setelah sempat melonjak ke 4,76% secara tahunan pada Februari 2026, inflasi akhirnya melandai ke 3,48% pada Maret 2026.
Meski sudah kembali masuk dalam kisaran target BI, posisinya masih berada di batas atas sehingga ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter dinilai terbatas.
Di sisi lain, tekanan eksternal masih membayangi. Nilai tukar rupiah tercatat masih bertahan di atas Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat, mencerminkan kondisi global yang belum sepenuhnya stabil.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai BI belum memiliki urgensi untuk mengubah arah kebijakan suku bunga dalam waktu dekat.
Menurutnya, langkah menahan suku bunga juga penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik tetap berjalan.
Ia menambahkan, inflasi berpotensi tetap terjaga di bawah 3,5% selama tidak ada penyesuaian harga energi bersubsidi seperti BBM Pertalite, solar, elpiji 3 kilogram, dan tarif listrik.
“Kalau harga minyak dunia turun, kita lihat kemungkinan kondisi ekonomi kita juga akan kembali kondusif, terutama dari sisi fiskal,” ujar Myrdal kepada KONTAN, Senin (20/4/2026).
Meski begitu, Myrdal menilai peluang penurunan suku bunga masih terbuka ke depan, terutama jika tekanan inflasi mereda seiring turunnya harga minyak global.
Pandangan serupa juga disampaikan Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual. Ia memperkirakan BI akan tetap menahan suku bunga di level 4,75% pada RDG bulan ini.
Menurut David, faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak dunia dan potensi tekanan inflasi masih menjadi alasan utama BI untuk bersikap hati-hati.
“Kemungkinan masih akan menahan karena tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak dan inflasi diproyeksikan masih relatif meningkat,” ujarnya.











