PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Perkembangan ekonomi digital tidak hanya mendorong penggunaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), tetapi juga meningkatkan kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memahami keamanan dan pengelolaan teknologi.
Adopsi AI yang semakin luas di berbagai sektor membuat perusahaan perlu menyiapkan talenta yang tidak sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami risiko keamanan, pengolahan data hingga pengembangan sistem berbasis AI.
Kebutuhan tersebut tercermin dalam perkembangan bidang cybersecurity dan AI yang kini semakin beririsan dengan aktivitas bisnis.
Perusahaan harus menghadapi tantangan berupa perlindungan data, keamanan aplikasi, serangan siber serta penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Di tengah kondisi tersebut, School of Computer Science BINUS University menggelar CIPHER (Cybersecurity and Intelligent Systems for Protection, Hacking, Engineering, and Research) 2026.
Kegiatan ini mempertemukan bidang cybersecurity dan AI melalui berbagai aktivitas pembelajaran dan simulasi teknologi.
Dean of School of Computer Science BINUS University Prof. Dr. Ir. Derwin Suhartono, S.Kom., MTI mengatakan, perkembangan kedua bidang tersebut membuat pembelajaran teknologi perlu semakin dekat dengan kebutuhan nyata.
“Computer science bukan hanya tentang bagaimana menciptakan teknologi, tetapi juga bagaimana memahami teknologi tersebut secara kritis dan menggunakannya untuk memberikan solusi,” ujar Derwin dalam keterangannya Kamis (17/9/2026).
Menurut dia, cybersecurity dan AI merupakan bidang yang berkembang cepat dan berdampak luas terhadap masyarakat maupun industri.
Karena itu, pengalaman belajar yang bersifat praktis menjadi penting untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi kebutuhan masa depan.
Kebutuhan talenta digital
CIPHER 2026 mengangkat tema “Ecosystem Protocol – An Ecosystem that Thinks, Builds, and Grows Together”. Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa, akademisi, praktisi dan komunitas teknologi.
Alih-alih hanya menghadirkan seminar, kegiatan dibagi dalam sejumlah area yang memungkinkan peserta mencoba berbagai teknologi secara langsung. Pendekatan tersebut mencakup simulasi keamanan siber hingga penerapan AI.
Pada area cybersecurity, misalnya, peserta dapat mempelajari berbagai aspek keamanan melalui simulasi red team, blue team dan physical security.
Simulasi tersebut mencakup web application security, mobile application security, analisis aplikasi, digital forensic, log analysis dan malware analysis. Seluruh aktivitas dilakukan dalam lingkungan simulasi yang disiapkan untuk pembelajaran.
Dari sisi AI, peserta diperkenalkan dengan sejumlah teknologi yang sudah semakin dekat dengan aktivitas bisnis dan kehidupan sehari-hari.
Area Natural Language Processing (NLP) menampilkan penerapan seperti chatbot, sentiment analysis, penerjemahan mesin dan text summarization. Sementara computer vision memperlihatkan pemanfaatan AI untuk mengenali wajah, objek, gestur hingga pose.
Ada pula AIoT (Artificial Intelligence of Things) yang menggabungkan AI dengan perangkat fisik melalui contoh penerapan seperti smart home, smart farming dan wearable technology.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap talenta digital tidak hanya berada pada kemampuan pemrograman. Pemahaman mengenai keamanan sistem, analisis data, AI dan penerapannya dalam proses bisnis juga menjadi bagian dari kompetensi yang semakin relevan dalam ekonomi digital.
Di sisi lain, meningkatnya penggunaan AI juga membuat aspek keamanan menjadi perhatian. Sistem yang semakin terhubung dan pemanfaatan data dalam jumlah besar membuka peluang efisiensi bagi bisnis, namun sekaligus menambah kebutuhan terhadap pengelolaan risiko teknologi.
Karena itu, pengembangan talenta di bidang AI dan cybersecurity menjadi salah satu bagian dari kesiapan ekosistem digital, baik untuk memenuhi kebutuhan industri maupun menghadapi perubahan pola kerja akibat adopsi teknologi.











