Gaya Hidup

Folago Genjot Bisnis Live Streaming, Bidik 2.500 Kreator Berkualitas pada 2027

Avatar photo
9
×

Folago Genjot Bisnis Live Streaming, Bidik 2.500 Kreator Berkualitas pada 2027

Sebarkan artikel ini
Folago Genjot Bisnis Live Streaming, Bidik 2.500 Kreator Berkualitas pada 2027


PRESSCORNER.ID – BANGKOK. Industri live streaming, khususnya segmen live entertainment, dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan di Indonesia. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah kreator yang melakukan siaran langsung serta aktivitas belanja atau gifting di dalam ekosistem tersebut.

President Director Folago Live Entertainment Subioto Jingga mengatakan, pertumbuhan industri live entertainment di Indonesia masih menunjukkan tren positif. Menurutnya, jumlah orang yang melakukan live streaming maupun pengguna yang melakukan spending di dalam platform terus meningkat.

“Kita melihat dari jumlah orang yang nge-live, jumlah orang yang nge-spending dan ini meningkatnya luar biasa,” ujar Subioto dalam wawancara dengan Kontan di sela-sela acara TikTok Live Global Summit 2026 di Bangkok, Selasa (15/9/2026).


Ia memperkirakan pertumbuhan bisnis live entertainment masih dapat berada di level double digit, meski ia menegaskan bahwa proyeksi pertumbuhan industri secara keseluruhan lebih tepat ditanyakan kepada pihak platform.


“Ke depan ini juga peningkatan ini akan mungkin masih dalam hitungan kita itu masih bisa double digit,” katanya.


Menurut Subioto, perkembangan industri tersebut juga tercermin dari ukuran bisnis yang semakin besar dibandingkan tahun sebelumnya.


“Jauh lebih bagus. Secara business size-nya juga growing,” ujarnya.


Target 2.500 Kreator


Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, Folago juga menargetkan peningkatan jumlah kreator yang berada dalam ekosistemnya.


Subioto mengatakan, sepanjang tahun ini Folago mencatat penambahan sekitar 1.700-1.800 kreator. Untuk tahun depan, perusahaan menargetkan sekitar 2.500 kreator berkualitas.


“Tahun depan kita sih pengen targetin sekitar 2.500 kreator yang sudah berkualitas. Kreator baru yang sudah tersaring,” jelasnya.


Saat ini, Folago menaungi lebih dari 4.000 kreator. Untuk mengembangkan ekosistem tersebut, perusahaan tidak hanya mengandalkan perekrutan kreator secara online, tetapi juga menjalankan program inkubasi.


Folago mengembangkan Folago Academy, yang ditujukan untuk mendukung pengembangan kreator. Menurut Subioto, kreator yang berada dalam ekosistem Folago tidak hanya diarahkan menjadi live entertainer.


Ada empat kategori profesi yang dikembangkan, yakni live entertainer, affiliator, TikTok Local Services, dan clipper.


Folago juga melakukan roadshow ke berbagai daerah untuk melakukan inkubasi dan perekrutan kreator baru. Subioto mengatakan perusahaan bekerja sama dengan sejumlah kementerian dan institusi dalam menjalankan program tersebut.


AI Tingkatkan Kapasitas Talent Coordinator


Pertumbuhan jumlah kreator juga mendorong kebutuhan akan pengelolaan yang lebih efisien. Di titik inilah Folago mulai memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI).


Subioto mengatakan, AI saat ini digunakan antara lain untuk membantu proses operasional dan pengelolaan kreator, termasuk pada tahap rekrutmen, filtering, hingga analisis.


Salah satu dampaknya terlihat pada kapasitas talent coordinator. Sebelum menggunakan bantuan AI, satu talent coordinator Folago rata-rata dapat menangani sekitar 200 kreator.


Kini, dengan bantuan AI tools, kapasitas tersebut dapat meningkat menjadi sekitar 500 kreator per talent coordinator.


“Talent coordinator kita biasanya satu orang bisa manage 200 kreator. Tapi dengan bantuan AI tools yang kita pakai sekarang bisa manage kurang lebih 500,” jelasnya.


Selain operasional, AI juga digunakan dalam penyusunan laporan analitik untuk kebutuhan manajemen.


Meski demikian, Subioto menilai penggunaan AI tidak akan serta-merta menghilangkan peran talent manager. Menurut dia, AI lebih tepat ditempatkan sebagai alat bantu atau enabler.


“AI itu hanya sebagai tools, enabler,” katanya.


Ia menilai terdapat aspek dalam industri live entertainment yang sulit digantikan oleh teknologi, terutama hubungan emosional antara kreator dan audiens.


“Di live entertainment ini menurut saya yang paling penting satu yang nggak bisa digantikan oleh AI itu emotion bonding,” ujar Subioto.


Dengan demikian, menurut dia, AI akan lebih berperan dalam meningkatkan efisiensi pengelolaan kreator, bukan menggantikan manusia sepenuhnya.