PRESSCORNER.ID – SEOUL. Korea Selatan tengah mempersiapkan proyek investasi energi berskala besar di Amerika Serikat (AS) dengan nilai lebih dari US$100 miliar. Investasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kebutuhan energi dalam pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di AS.
Mengutip laporan The Wall Street Journal pada Kamis (10/9/2026), kesepakatan tersebut mencakup rencana pendanaan pembangunan hingga delapan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) serta proyek pembangkit listrik berbahan bakar gas alam di AS.
Pemerintah Korea Selatan disebut akan mengumumkan proyek investasi tersebut dalam waktu dekat. Namun, Kementerian Perdagangan Korea Selatan menegaskan bahwa rincian investasi di AS masih dalam tahap pembahasan dan belum difinalisasi.
Departemen Perdagangan AS dan Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang disampaikan di luar jam kerja reguler.
Rencana investasi energi tersebut merupakan bagian dari komitmen Korea Selatan untuk meningkatkan investasi di AS setelah kedua negara mencapai kesepakatan perdagangan pada Oktober tahun lalu.
Dalam kesepakatan tersebut, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyepakati komitmen investasi Korea Selatan senilai US$350 miliar di sektor manufaktur AS. Sebagai imbalannya, Washington menetapkan tarif impor produk Korea Selatan maksimal 15%.
Namun, implementasi kesepakatan tersebut menghadapi sejumlah kendala dan penundaan. Kondisi itu bahkan sempat mendorong Trump mengancam akan menaikkan tarif terhadap produk Korea Selatan pada awal tahun ini.
Menurut laporan The Wall Street Journal, investasi energi yang direncanakan Korea Selatan akan direalisasikan secara bertahap dalam beberapa tahun mendatang.
Bangun Hingga Delapan Reaktor Nuklir
Salah satu bagian utama dari rencana tersebut adalah pembangunan hingga delapan reaktor nuklir di AS.
Reaktor pertama disebut akan menggunakan desain dari Westinghouse Electric, perusahaan energi nuklir asal AS. Sementara itu, beberapa reaktor berikutnya berpotensi menggunakan desain dari Korea Electric Power Corp (KEPCO).
Investasi tersebut menunjukkan semakin eratnya kerja sama energi antara Korea Selatan dan AS, khususnya dalam pengembangan kapasitas pembangkit listrik untuk menopang pertumbuhan kebutuhan listrik dari industri teknologi.
Selain proyek nuklir, Korea Selatan juga mempertimbangkan investasi sekitar US$20 miliar untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga gas alam di Texas.
Pembangkit tersebut dirancang untuk memasok kebutuhan listrik pusat data AI di wilayah tersebut. Meningkatnya pembangunan pusat data yang digunakan untuk menjalankan sistem AI telah mendorong kebutuhan listrik dalam jumlah besar di AS.
Dengan investasi tersebut, Korea Selatan tidak hanya berpotensi memperluas perannya dalam rantai pasok energi AS, tetapi juga memperkuat kerja sama ekonomi dan teknologi kedua negara.
Rencana investasi bernilai lebih dari US$100 miliar itu juga menjadi bagian penting dari upaya Seoul memenuhi komitmen investasi yang telah disepakati dengan Washington di tengah tekanan perdagangan dan tarif dari pemerintahan Trump.











