PRESSCORNER.ID – NEW DELHI. India mendorong negara-negara BRICS untuk menghubungkan mata uang digital bank sentral atau central bank digital currencies (CBDC) guna mempermudah pembayaran lintas batas. Usulan tersebut akan dibawa dalam pertemuan para pemimpin BRICS di New Delhi pada 12-13 September 2026.
Dua sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan, India berupaya mendorong integrasi CBDC antarnegara anggota BRICS. Namun, rencana tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari persoalan politik hingga tantangan teknis.
India menjadi ketua BRICS pada tahun ini. Dalam kapasitas tersebut, India mengusulkan penghubungan mata uang digital resmi masing-masing negara untuk memfasilitasi perdagangan lintas batas.
Reuters sebelumnya melaporkan pada Januari bahwa Reserve Bank of India (RBI) telah mengusulkan pengintegrasian CBDC negara-negara BRICS untuk memperlancar transaksi lintas negara.
BRICS saat ini mencakup Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Integrasi CBDC Masuk Agenda KTT BRICS
Menurut kedua sumber tersebut, proposal pengintegrasian CBDC akan menjadi bagian dari agenda pertemuan para pemimpin BRICS.
Meski demikian, implementasinya berpotensi menghadapi hambatan karena penggunaan mata uang digital bank sentral secara global masih terbatas. Kedua sumber meminta identitas mereka tidak dipublikasikan karena isu tersebut sensitif dan mereka tidak memiliki kewenangan untuk berbicara kepada media.
Reuters telah menghubungi Kementerian Luar Negeri India, Kementerian Keuangan India, serta RBI untuk meminta tanggapan. Namun, hingga berita ini ditulis, tidak ada tanggapan yang diberikan.
Tantangan Politik dan Teknis
Usulan India tersebut akan melanjutkan deklarasi BRICS 2025 yang disepakati dalam KTT BRICS di Rio de Janeiro. Deklarasi tersebut mendorong interoperabilitas atau kemampuan sistem pembayaran negara-negara anggota untuk saling terhubung sehingga transaksi lintas batas dapat berlangsung lebih efisien.
Namun, upaya menghubungkan CBDC antarnegara BRICS diperkirakan tidak mudah.
Pembahasan sebelumnya mengenai pembentukan mekanisme pembayaran bersama di antara negara-negara BRICS belum menunjukkan kemajuan berarti. Kondisi tersebut mencerminkan kompleksitas dalam mengintegrasikan infrastruktur keuangan dari negara-negara dengan sistem ekonomi, regulasi, dan kepentingan politik yang beragam.
Hubungan yang tegang antara sejumlah negara anggota juga dapat menjadi kendala. Salah satu sumber menyoroti hubungan antara Iran dan UEA, mengingat UEA telah memutus hubungan keuangan dengan Iran.
India juga disebut masih berhati-hati dalam memperdalam konektivitas keuangan dengan China. Sumber kedua mengatakan, integrasi sistem pembayaran antara kedua negara membutuhkan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa India menunda proposal Alipay+ untuk menghubungkan layanannya dengan sistem pembayaran instan India dalam transaksi lintas batas. Keputusan tersebut berkaitan dengan kekhawatiran keamanan nasional karena keterkaitan Alipay+ dengan China.
Butuh Mekanisme Pertukaran Mata Uang
Selain persoalan politik dan teknologi, integrasi CBDC juga membutuhkan mekanisme pertukaran mata uang atau currency swap.
Menurut sumber tersebut, pengaturan currency swap diperlukan untuk membantu mengelola ketidakseimbangan perdagangan sebelum sistem CBDC lintas negara dapat beroperasi secara efektif.
Negara-negara BRICS sebelumnya memang telah mengeksplorasi berbagai alternatif pembayaran yang tidak bergantung pada dolar AS.
Brasil pernah mengusulkan pembentukan mata uang bersama BRICS. Namun, gagasan tersebut tidak mengalami perkembangan lebih lanjut.
Wacana penggunaan alternatif terhadap dolar AS juga mendapat perhatian dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump sebelumnya memperingatkan negara-negara BRICS agar tidak mengambil langkah menuju mata uang bersama dengan ancaman pengenaan tarif tinggi.
India Tidak Berniat Gantikan Dolar AS
Meski mendorong integrasi mata uang digital antarnegara BRICS, India disebut tidak memiliki kepentingan untuk menggantikan dolar AS.
Sumber kedua mengatakan bahwa tujuan India adalah meningkatkan efisiensi transaksi lintas batas, bukan menciptakan sistem yang menggantikan dolar AS.
“India tidak memiliki kepentingan untuk menggantikan dolar, dan menghubungkan mata uang digital resmi bertujuan membuat pembayaran lintas batas lebih mudah dan lebih cepat,” ujar sumber tersebut.











