BeritaInternasional

Driver Grab Vietnam Serukan Boikot Akhir Pekan, Keluhkan Potongan Tarif

Avatar photo
12
×

Driver Grab Vietnam Serukan Boikot Akhir Pekan, Keluhkan Potongan Tarif

Sebarkan artikel ini
Driver Grab Vietnam Serukan Boikot Akhir Pekan, Keluhkan Potongan Tarif


PRESSCORNER.ID – HANOI. Pengemudi layanan transportasi daring Grab di Vietnam menyerukan aksi boikot pada akhir pekan ini. Mereka memprotes kenaikan biaya layanan yang dinilai memangkas pendapatan pengemudi hingga berada pada tingkat yang sulit dipertahankan.

Para pengemudi yang bekerja untuk Grab, perusahaan ride-hailing asal Singapura, menggunakan media sosial untuk mengajak rekan-rekan mereka menghentikan sementara penggunaan aplikasi pada Sabtu dan Minggu.

Sejumlah pengemudi membagikan tangkapan layar melalui Facebook yang menunjukkan penurunan pendapatan setelah perubahan struktur pembayaran Grab. Mereka juga meminta pengemudi lainnya tidak menerima pesanan selama akhir pekan sebagai bentuk protes.

“Mari kita semua berdiri bersama, matikan aplikasi dan beristirahat untuk menuntut keadilan,” tulis salah satu pengguna Facebook dalam sebuah unggahan di grup publik Vietnam Grab Driver Community yang memiliki sekitar 169.000 anggota.

Hingga berita ini ditulis, Grab belum memberikan tanggapan kepada Reuters mengenai seruan boikot tersebut.

Potongan Grab Capai 50%

Keluhan pengemudi muncul setelah Grab mengubah struktur pembayaran pada Juli 2026. Berdasarkan laporan media milik pemerintah Vietnam, VTC News, yang dikutip Reuters, potongan yang dikenakan kepada pengemudi kini dapat mencapai 50% dari nilai tarif perjalanan.

Besarnya potongan tersebut membuat penghasilan bersih pengemudi sepeda motor diperkirakan hanya sekitar 2.600 dong Vietnam atau sekitar US$0,10 per kilometer.

Sementara itu, pengemudi mobil memperoleh pendapatan bersih sekitar 6.000 dong atau US$0,23 per kilometer.

Pendapatan tersebut belum memperhitungkan sejumlah biaya operasional yang harus ditanggung pengemudi, seperti bahan bakar, perawatan kendaraan, serta penyusutan kendaraan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian para pengemudi karena kenaikan biaya operasional kendaraan berpotensi semakin menekan pendapatan bersih yang mereka terima dari setiap perjalanan.

Meski demikian, sebagian pengemudi juga menilai keberadaan Grab tetap penting bagi mata pencaharian mereka.

“Jika Grab keluar dari Vietnam, para pengemudi tidak akan memiliki apa-apa,” kata Salah satu pengguna di grup Facebook tersebut.

Grab merupakan salah satu operator layanan transportasi daring terbesar di Vietnam. Selain layanan ride-hailing, perusahaan tersebut juga menjalankan bisnis pengantaran makanan serta berbagai layanan digital lainnya di negara tersebut.