PRESSCORNER.ID – BRUSSEL. Sektor manufaktur zona euro menunjukkan pemulihan yang semakin kuat pada Agustus 2026. Ini terlihat dari data terbaru purchasing managers index (PMI) sektor manufaktur zona euro yang dirilis S&P Global, Selasa (1/9/2026).
PMI manufaktur kawasan negara-negara pengguna mata uang euro tercatat naik menjadi 52,7 pada Agustus dari 51,9 pada Juli. Angka di Agustus tersebut sedikit lebih rendah dibanding konsensus proyeksi ekonom di 52,8. Tapi, realisasi tersebut merupakan yang tertinggi sejak Mei 2022.
Realisasi PMI manufaktur zona euro di Agustus juga menandakan ekspansi sektor manufaktur untuk bulan kelima berturut-turut. Level tersebut merupakan laju ekspansi manufaktur tercepat dalam lebih dari empat tahun.
Penguatan manufaktur terutama didorong oleh produksi pabrik yang meningkat solid. Indeks output manufaktur naik menjadi 53,3 pada Agustus dari 52,9 pada Juli, mencapai level tertinggi dalam 54 bulan.
Permintaan juga menjadi sumber utama penguatan. Pertumbuhan pesanan baru meningkat dengan laju tercepat sejak awal 2022, sementara pesanan ekspor baru kembali tumbuh untuk kedua kalinya dalam sekitar empat setengah tahun. Perbaikan permintaan ekspor terutama terlihat di sejumlah negara industri utama zona euro.
Realisasi tersebut menunjukkan industri di negara pengguna euro kini lebih kuat. “Laporan PMI Agustus memberikan tanda paling jelas sejauh ini bahwa perekonomian industri zona euro sejauh ini telah berhasil mengatasi baik guncangan harga minyak maupun gangguan terkait pasokan yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah,” kata Joe Hayes, Senior Principal Economist di S&P Global Market Intelligence, dalam rilis pers, Selasa (1/9/2026).
Menurut Hayes, penguatan pesanan baru, yang sebagian didorong pemulihan permintaan ekspor, dapat memberikan fondasi bagi keberlanjutan ekspansi industri.
Jika dilihat berdasarkan tiga kelompok utama industri, sektor barang setengah jadi menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan manufaktur zona euro pada Agustus. Kelompok ini mencakup sejumlah industri penting seperti bahan kimia dan logam, peralatan listrik serta komponen elektronik.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa zona euro mulai memperoleh manfaat dari siklus pertumbuhan teknologi global. “Ini menunjukkan zone euro juga dapat menjadi penerima manfaat dari siklus super teknologi, meskipun kawasan ini terlambat dalam momentum tersebut dibanding kawasan lain,” kata Hayes.
Secara regional, Jerman menjadi salah satu motor utama pemulihan manufaktur zona euro, dengan pertumbuhan pabrik mencapai level terkuat dalam lebih dari empat tahun. Prancis juga kembali mencatat ekspansi, sementara Italia dan Spanyol masih mengalami kontraksi.
Selain penguatan aktivitas industri, perkembangan positif juga terlihat dari sisi harga. Kenaikan harga produsen kembali melambat pada Agustus, meski volatilitas harga minyak masih berlangsung.
Hayes mengatakan perlambatan kenaikan harga produsen membantu mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih luas. “Pelunakan lebih lanjut kenaikan harga produsen, bahkan di tengah volatilitas pasar minyak yang berkelanjutan, membantu meredakan kekhawatiran inflasi yang lebih luas,” ujar Hayes.
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa proses disinflasi mulai kehilangan momentum. “Laju disinflasi mulai mendatar dan indikator harga PMI masih jauh di atas level sebelum perang, yang mungkin justru membuat pembuat kebijakan moneter zona euro tetap berhati-hati,” papar Hayes.











