BeritaInternasional

Boom AI Topang Manufaktur Asia, Ekspor Chip Makin Kuat

Avatar photo
9
×

Boom AI Topang Manufaktur Asia, Ekspor Chip Makin Kuat

Sebarkan artikel ini
Boom AI Topang Manufaktur Asia, Ekspor Chip Makin Kuat


PRESSCORNER.ID – BEIJING. Industri manufaktur Asia mendapat angin segar dari lonjakan permintaan global terhadap perangkat keras kecerdasan buatan (AI). Sejumlah negara mencatat aktivitas pabrik yang tetap ekspansif pada Agustus, meski perang berkepanjangan di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian dan tekanan biaya.

Mengutip Reuters (1/9), China, Jepang, dan Korea Selatan menjadi penopang utama. Permintaan terhadap semikonduktor, komputer, serta produk terkait AI membantu menjaga aktivitas manufaktur tetap tumbuh di tengah berbagai tekanan eksternal.

Di China, RatingDog China General Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) yang disusun S&P Global naik menjadi 51,5 pada Agustus dari 50,9 pada Juli. Angka tersebut juga melampaui ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan PMI berada di level 51.

PMI di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi. Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa boom AI mulai memberikan dukungan terhadap sektor industri China yang belakangan menghadapi tantangan pemulihan ekonomi.

Namun, kondisi manufaktur China belum sepenuhnya solid. Survei resmi pemerintah masih menunjukkan aktivitas pabrik berada di zona kontraksi. Artinya, pemulihan industri Negeri Tirai Bambu masih rentan dan belum merata.

Jepang justru menunjukkan penguatan yang lebih jelas. Aktivitas manufaktur meningkat pada Agustus, sementara pertumbuhan pesanan baru mencapai level tercepat sejak Januari 2018. Permintaan semikonduktor dan produk berbasis AI menjadi salah satu motor utama.

S&P Global Japan Manufacturing PMI naik menjadi 54,9 pada Agustus dari 54,5 pada Juli. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak April dan memperpanjang ekspansi manufaktur Jepang menjadi delapan bulan berturut-turut.

Annabel Fiddes, associate director bidang ekonomi di S&P Global Market Intelligence, menilai prospek sektor manufaktur Jepang masih cukup kuat. Permintaan dari industri yang berkaitan dengan AI menjadi salah satu faktor pendukung utama.

Korea Selatan juga menikmati momentum serupa. Aktivitas manufaktur Negeri Ginseng mencatat ekspansi selama sembilan bulan berturut-turut, meski PMI turun menjadi 52,3 pada Agustus dari 53,1 pada Juli.

Kinerja tersebut tidak lepas dari lonjakan ekspor. Ekspor Korea Selatan pada Agustus tumbuh 68,7% secara tahunan dan mencatat pertumbuhan selama 15 bulan beruntun.

Ekonom S&P Global Market Intelligence David Owen menyebut kuatnya permintaan ekspor sebagai sinyal positif bagi perusahaan yang masih menikmati momentum dari siklus super AI dan semikonduktor.

Dampak boom AI juga terlihat di sejumlah negara Asia lainnya. Aktivitas manufaktur Taiwan, Malaysia, dan Filipina tetap berada di zona ekspansi pada Agustus.

PMI Taiwan tercatat 54,7, meski turun dari 55,1 pada Juli. Malaysia juga masih ekspansif dengan PMI 50,2, sedikit melemah dari 50,7 pada bulan sebelumnya.

Filipina menjadi salah satu negara dengan kinerja paling kuat. PMI manufakturnya melonjak menjadi 54,9 pada Agustus dari 51,8 pada Juli.

Indonesia justru bergerak berlawanan. PMI manufaktur turun menjadi 49,8 pada Agustus dari 50,2 pada Juli, kembali masuk ke zona kontraksi.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa siklus AI dan semikonduktor menjadi salah satu penopang penting bagi manufaktur Asia. Namun, manfaatnya belum dirasakan secara merata, sementara tekanan biaya dan ketidakpastian geopolitik masih menjadi risiko bagi industri kawasan.