BeritaInternasional

Imbal Hasil Obligasi Global Melonjak, Harga Minyak Tembus US$91 per Barel

Avatar photo
10
×

Imbal Hasil Obligasi Global Melonjak, Harga Minyak Tembus US$91 per Barel

Sebarkan artikel ini
Imbal Hasil Obligasi Global Melonjak, Harga Minyak Tembus US per Barel


PRESSCORNER.ID – TOKYO. Imbal hasil (yield) obligasi di berbagai negara melonjak ke level tertinggi baru pada Selasa (1/9/2026). Kenaikan tersebut terjadi di tengah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah menembus US$90 per barel dan menekan pasar saham global.

Di Jepang, yield obligasi pemerintah (JGB) bertenor 10 tahun menembus level 3% untuk pertama kalinya dalam satu generasi. Sementara itu, yield US Treasury 10 tahun yang menjadi acuan harga berbagai aset keuangan mencapai 4,78%, level tertinggi sejak awal 2025.

Tekanan jual juga berlanjut pada kontrak berjangka obligasi pemerintah Prancis dan Jerman. Aksi jual sebelumnya telah mendorong yield obligasi kedua negara tersebut ke level tertinggi dalam 15 tahun.

“Saya pikir sekarang ada semacam rasa pasrah—yang bercampur dengan ketidakberdayaan—terhadap kenaikan suku bunga,” kata Ryutaro Kimura, senior strategist BNP Asset Management di Tokyo.

Menurutnya, kenaikan biaya pinjaman di Jepang menjadi perhatian besar karena selama bertahun-tahun pasar obligasi Jepang menjadi salah satu jangkar penting bagi pasar keuangan global.

Harga Minyak Naik, Risiko Inflasi Meningkat

Kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi pasar obligasi karena inflasi yang lebih tinggi berpotensi membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pada saat yang sama, perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan Federal Reserve turut meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan.

Beban penerbitan utang pemerintah yang terus meningkat secara global juga membuat investor mulai meminta premi yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko ketika meminjamkan dana kepada pemerintah.

“Perpaduan kondisi makroekonomi kini menjadi semakin menantang bagi aset berjangka panjang dan aset berisiko,” ujar Wee Khoon Chong, APAC macro strategist di BNY.

“Kebijakan moneter yang hawkish, kembali meningkatnya risiko geopolitik dan inflasi, serta kekhawatiran fiskal yang semakin besar bertemu dan mempertahankan tekanan kenaikan terhadap premi jangka panjang serta yield obligasi tenor panjang,” lanjutnya.

Sementara itu, kontrak berjangka saham AS dan Eropa bergerak melemah setelah Wall Street membukukan penurunan moderat pada perdagangan Senin (31/8/2026).

Pelaku pasar kini menantikan data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat. Data tersebut dinilai dapat menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, termasuk kemungkinan dimulainya kembali siklus kenaikan suku bunga pada bulan ini.

Brent Tembus US$91 per Barel

Tekanan terhadap pasar keuangan semakin kuat setelah harga minyak mentah Brent menembus US$91 per barel dalam perdagangan Asia.

Kenaikan harga energi terjadi ketika konflik di Timur Tengah kembali memanas. Di Eropa, harga gas acuan juga ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari 3,5 tahun pada perdagangan Senin.

Situasi geopolitik tersebut membuat prospek energi dan inflasi menjadi semakin rentan. Investor pun mulai bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga dalam jangka pendek di sejumlah negara.

Presiden AS Donald Trump bahkan telah mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran setelah terjadi pertukaran serangan untuk pertama kalinya dalam sebulan.

Di sisi lain, meningkatnya intensitas pertempuran antara Rusia dan Ukraina turut mendorong harga gandum mendekati level tertinggi dalam hampir tiga tahun.

Pasar kini memperkirakan adanya kenaikan suku bunga di Selandia Baru pada Rabu serta kenaikan suku bunga di Eropa pada pekan depan. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga di AS dan Jepang pada September dinilai telah berada di atas 50%.

Yen dan Euro Relatif Stabil

Kenaikan biaya pinjaman yang terjadi secara global hanya memberikan dukungan terbatas terhadap dolar AS.

Nilai tukar euro relatif stabil di level US$1,1619, sedangkan yen Jepang berada di posisi 159,76 yen per dolar AS. Data awal inflasi Eropa juga dijadwalkan dirilis pada Selasa dan akan menjadi perhatian investor.

Di pasar saham Asia, indeks Nikkei Jepang bergerak mendatar hingga awal perdagangan sore. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong turun sekitar 1%.

Sentimen pasar di Hong Kong turut tertekan oleh kinerja saham Shein yang mencatatkan debut perdagangan kurang menggembirakan.

Saham Shein di Hong Kong merosot sekitar 8% hingga berada di bawah harga penawaran. Penurunan tersebut terjadi meskipun harga penawaran saham sebelumnya telah diturunkan dari putaran penggalangan dana sebelumnya.

Perusahaan fast fashion yang dikenal menjual produk dengan harga murah, seperti atasan sekitar US$5 dan gaun sekitar US$10, menghadapi tekanan akibat perubahan tarif dan bea masuk di AS maupun Eropa.

Perubahan kebijakan tersebut dinilai telah menggerus salah satu pilar utama model bisnis Shein yang mengandalkan harga murah.

Kondisi pasar global saat ini menunjukkan kombinasi risiko yang semakin kompleks. Lonjakan harga energi, ketegangan geopolitik, kekhawatiran inflasi, tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta potensi perubahan arah kebijakan moneter menjadi faktor yang dapat menjaga tekanan terhadap yield obligasi dan aset berisiko dalam jangka pendek.