PRESSCORNER.ID – Liga Primer Inggris atau English Premier League (EPL) diproyeksikan menjadi salah satu penggerak utama perekonomian Inggris hingga beberapa tahun ke depan.
Laporan terbaru dari firma konsultan EY memperkirakan EPL akan menyumbang gross value added (GVA) sebesar £33 miliar, atau sekitar Rp796 triliun, bagi ekonomi Inggris sepanjang periode 2025 hingga 2028.
Kompetisi ini diproyeksikan menghasilkan £14,8 miliar atau sekitar Rp357,2 triliun penerimaan pajak hingga 2028 serta menyerap sekitar 107.600 lapangan kerja penuh waktu setiap tahun.
Mengutip rilis resmi PremierLeague.com, EY mencatat kontribusi ekonomi EPL telah meningkat 14 kali lipat dibanding musim 1998/1999.
Hak Siar dan Penggemar Global Jadi Motor
Kompetisi ini disiarkan di 189 negara dan diperkirakan memiliki 1,9 miliar penggemar di seluruh dunia.
Pendapatan ekspor dari hak siar internasional mencapai £1,8 miliar, hampir setara dengan gabungan pendapatan ekspor sektor televisi Inggris lainnya.
Pada musim 2023/2024, sekitar 1,1 juta wisatawan mancanegara datang ke Inggris untuk menyaksikan pertandingan EPL secara langsung.
Kunjungan tersebut menghasilkan lebih dari £1 miliar atau sekitar Rp24,1 triliun bagi perekonomian Inggris dan menyumbang 2,6% dari total kunjungan wisatawan internasional ke Inggris.
Dampak Ekonomi Tidak Terpusat
Menurut EY, sekitar 60% nilai tambah ekonomi dan 66% lapangan kerja yang didukung kompetisi berasal dari klub-klub yang berada di luar London.
Pada musim 2023/2024, klub-klub tersebut menghasilkan £5,9 miliar atau sekitar Rp142,4 triliun bagi perekonomian wilayah di luar ibu kota. Kawasan Inggris Barat Laut menjadi penyumbang terbesar dengan nilai mencapai £3,1 miliar.
Di luar aktivitas bisnis, EPL juga berkontribusi terhadap berbagai program sosial melalui Premier League Foundation dan yayasan milik klub-klub peserta.
EY memperkirakan berbagai program tersebut akan menghasilkan £4,3 miliar atau sekitar Rp103,8 triliun nilai sosial sepanjang 2025 hingga 2028.
Investasi Stadion Terus Mengalir
Sejak kompetisi dimulai pada musim 1992/1993, kapasitas rata-rata stadion meningkat sekitar 55%, atau bertambah lebih dari 290.000 kursi.
Dari 51 klub yang pernah tampil di EPL, sebanyak 22 klub telah membangun atau pindah ke stadion baru, sementara 27 klub melakukan renovasi stadion.
Sepanjang 2014–2024, klub-klub EPL menginvestasikan sekitar £4,8 miliar atau sekitar Rp115,9 triliun untuk pembangunan dan pengembangan fasilitas, termasuk proyek Tottenham Hotspur Stadium dan Hill Dickinson Stadium.
EY juga memperkirakan proyek pembangunan stadion yang sedang direncanakan bernilai antara £3,7 miliar hingga £9 miliar, atau sekitar Rp89,3 triliun hingga Rp217,2 triliun. Proyek tersebut diperkirakan mampu menciptakan hingga 110.000 lapangan kerja penuh waktu.
Di sisi lain, minat masyarakat terhadap EPL juga terus meningkat. Pada musim 2025/2026, kompetisi ini mencatat rekor 15,9 juta penonton sepanjang musim, menjadi jumlah kehadiran tertinggi sejak liga bergulir pada 1992.









