PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat hingga akhir perdagangan sesi pertama, Rabu (5/8/2026), setelah pelaku pasar merespons positif rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 yang mencapai 5,29% secara tahunan (year on year/YoY).
Mengutip data RTI, IHSG ditutup di level 6.363,01 pada akhir sesi I, naik 0,69% atau 43,40 poin.
Sebanyak 436 saham menguat, 179 saham melemah, dan 172 saham bergerak stagnan. Total volume perdagangan mencapai 20,6 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 7,9 triliun.
Penguatan IHSG ditopang oleh sembilan indeks sektoral. Tiga sektor dengan kenaikan terbesar adalah IDX Basic Materials yang naik 2,34%, IDX Health menguat 1,94%, dan IDX Property bertambah 1,84%.
Di jajaran saham LQ45, penguatan terbesar dibukukan oleh:
- PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang melonjak 9,52% ke Rp 805.
- PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang naik 7,55% ke Rp 1.425.
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang menguat 5,88% ke Rp 3.060.
Sementara itu, saham LQ45 yang mengalami pelemahan terdalam adalah:
- PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang turun 5,62% ke Rp 1.680.
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang melemah 4,28% ke Rp 1.310.
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang terkoreksi 2,15% ke Rp 2.730.
Sentimen positif di pasar domestik ditopang oleh optimisme terhadap musim laporan keuangan semester I-2026 yang menunjukkan kinerja solid, terutama dari emiten sektor perbankan dan komoditas.
Selain itu, meredanya kekhawatiran terhadap risiko geopolitik setelah muncul perkembangan positif dalam perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz turut meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.
Di sisi domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% YoY pada kuartal II-2026. Meski lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,61% YoY pada kuartal I-2026, realisasi tersebut tetap mencerminkan ketahanan aktivitas ekonomi nasional.
Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati kelanjutan musim laporan keuangan emiten serta rencana pemerintah menambah injeksi dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke sektor perbankan guna menjaga likuiditas dan mendorong penyaluran kredit ke sektor riil.







