MOMSMONEY.ID – Indonesia menghadapi empat disrupsi global yang berlangsung secara bersamaan. Mulai dari fragmentasi perdagangan, gejolak geopolitik dan energi, transisi menuju ekonomi hijau, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI).
“Krisis dan disrupsi. Kita menghadapinya di saat yang bersamaan. Ini yang membedakan dari jaman-jaman yang lalu,” ungkap Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu dalam KONTAN Economic and Demographic Forum 2026, Selasa (29/9/2026).
Perubahan arah kebijakan ekonomi global turut memengaruhi bagaimana Indonesia bertahan dalam ketidakpastian tersebut. Multilateralisme yang menjadi pijakan kini sudah tidak sekuat sebelumnya, sedangkan sistem unilateral cenderung meningkat.
Hal tersebut mendorong berbagai negara untuk mulai memperkuat kepentingan domestic, membatasi ketergantungan pada pihak luar, dan menata ulang rantai pasok global.
Kondisi ini membuat Indonesia juga perlu meningkatkan ketahanan ekonominya secara mandiri, tanpa mengabaikan pentingnya kemitraan dan kerjasama internasional.
Disrupsi yang pertama adalah meningkatnya fragmentasi global, terutama akibat ketegangan hubungan daganag antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. Kebijakan tarif resiprokal yang mulai berlaku pada April 2025 telah meningkatkan Risiko tarif terhadap sejumlah produk Indonesia.
Menurut Mari, pemerintah perlu memperkuat industri nasional, memperluas pasar ekspor, dan mengantisipasi perubahan arah perdagangan dunia.
Disrupsi kedua berkaitan dengan Selat Hormuz, salah satu jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Gangguan di kawasan tersebut bisa memengaruhi lalu lintas kapal dan pasokan minyak global.
Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong peningkatan biaya energi, transportasi, produksi, dan distribusi. Dampaknya dapat merembet pada harga pangan serta daya beli masyarakat.
Mari menyampaikan, ketidakpastian sikap Amerika Serikat dalam perang yang memanas di Selat Hormuz menyebabkan kebimbangan bagi Indonesia dalam menentukan kebijaka.
Kondisi ini menjadi gambaran pentingnya diversifikasi sumber energi dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Ketahanan energi menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi ketika terjadi gejolak geopolitik.
Kemudian disrupsi yang ketiga adalah transisi menuju ekonomi hijau. Perubahan ini mendorong negara dan perusahaan untuk mengurangi emisi, menggunakan energi yang lebih bersih, serta menyesuaikan proses produksi dengan standar lingkungan yang semakin ketat.
Perubahan tersebut juga tercermin dalam kebijakan perdagangan, termasuk penerapan mekanisme penyesuaian karbon di perbatasan seperti Carbon Border Adjustment Mechanism atau CBAM di Uni Eropa sebagai contoh bagaimana karbon memiliki daya saing yang cukup kuat.
Kebijakan semacam ini, Mari menyatakan, bisa memengaruhi daya saing produk Indonesia di pasar global.
Perkembangan AI yang berlangsung sangat cepat menjadi disrupsi keempat yang harus dihadapi saat ini. Teknologi ini mulai memengaruhi berbagai sektor, mulai dari manufaktur, jasa keuangan, pendidikan, kesehatan, hingga administrasi pemerintahan.
Mari mengungkapkan, AI dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Namun, teknologi tersebut juga berpotensi mengubah struktur pekerjaan dan menimbulkan kesenjangan baru apabila tidak diikuti peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Keempat disrupsi tersebut saling berkaitan. Fragmentasi perdagangan dapat memengaruhi investasi, krisis energi dapat mempercepat transisi hijau, sementara AI dapat mengubah kebutuhan tenaga kerja dan cara perusahaan beroperasi.
Karena itu, Mari menegaskan, Indonesia tidak cukup hanya merespons setiap krisis secara terpisah. Perlukan strategi terpadu untuk memperkuat ketahanan ekonomi, menjaga stabilitas energi, meningkatkan daya saing industri, dan menyiapkan masyarakat menghadapi perubahan teknologi.
Indonesia perlu memahami dampak langsung, lanjutan, serta dampak jangka panjang dari setiap perubahan global. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pihak yang menerima guncangan, tetapi mampu menentukan arah dan memanfaatkan peluang di tengah dunia yang semakin tidak pasti.
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu mengatakan,











