Presscorner.id — Anies Baswedan di Aceh kembali menyusuri wilayah yang pernah dihantam bencana. Perjalanan darat sekitar 960 kilometer itu bukan sekadar kunjungan singkat, tetapi membawa mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut melihat proses pemulihan masyarakat dari Aceh Tengah hingga Aceh Tamiang.
Perjalanan berlangsung beberapa hari pada akhir Juli 2026 bersama sejumlah kelompok relawan dan gerakan sosial, di antaranya Aksi Bersama, Humanies Project, dan TurunTangan.
Sebelum memulai perjalanan, Anies mengabarkan dirinya telah mendarat di Banda Aceh pada 23 Juli 2026. Ia menyebut sejumlah wilayah yang akan didatangi, mulai Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tamiang hingga Aceh Tengah.
Kunjungan itu berkaitan dengan penyaluran amanah masyarakat dan donatur serta kegiatan pemulihan di sejumlah daerah terdampak bencana.
Perjalanan tersebut sekaligus membawa Anies kembali melihat kondisi Aceh setelah bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatra pada akhir 2025.
Dari Banda Aceh Menuju Tanah Gayo
Salah satu perjalanan panjang ditempuh Anies dari Banda Aceh menuju dataran tinggi Gayo di Aceh Tengah.
Ia tiba di Takengon pada Kamis malam, 23 Juli 2026, setelah menempuh perjalanan darat. Dalam perjalanan menuju Kecamatan Linge, Anies sempat singgah dan berinteraksi dengan warga di kawasan Enang-Enang.
Tujuan penting perjalanan tersebut berada di Kampung Kemerleng, Kecamatan Linge.
Di daerah ini, persoalan pascabencana bukan hanya tentang rumah dan kehidupan warga yang terdampak. Akses masyarakat ikut menjadi persoalan.
Aliran Sungai Jambo Aye sebelumnya membuat akses warga terganggu, termasuk perjalanan anak-anak menuju sekolah dan petani menuju lahan mereka.
Anies Resmikan Titian Persatuan di Aceh Tengah
Pada Jumat, 24 Juli 2026, Anies meresmikan Jembatan Titian Persatuan Kemerleng di Kampung Kemerleng, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.
Jembatan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan kemanusiaannya di Aceh.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan jembatan mempunyai fungsi yang sangat praktis. Infrastruktur itu kembali memberikan akses penyeberangan bagi aktivitas sehari-hari warga.
RRI melaporkan sebelumnya akses di kawasan tersebut berdampak pada perjalanan anak-anak menuju sekolah, petani yang hendak ke ladang hingga hubungan antarwarga di sekitar Sungai Jambo Aye.
Karena itu, perjalanan Anies ke Aceh Tengah tidak berhenti pada penyerahan bantuan. Pemulihan akses menjadi bagian dari upaya mengembalikan aktivitas masyarakat setelah bencana.
Perjalanan Berlanjut ke Aceh Tamiang
Dari dataran tinggi Aceh, rangkaian perjalanan kemudian menjangkau Aceh Tamiang.
Pada Sabtu, 25 Juli 2026, Anies mengunjungi Kampung Pante Cempa, Kecamatan Bandar Pusaka.
Daerah tersebut menjadi salah satu lokasi pembangunan fasilitas untuk mendukung pemulihan masyarakat setelah bencana hidrometeorologi.
Sejumlah fasilitas yang dibangun dengan dukungan Yayasan Arsitek Komunitas Indonesia (ARKOM Indonesia) meliputi balai warga, instalasi air bersih dan MCK komunal.
Anies meninjau pembangunan MCK sekaligus meresmikan fasilitas yang telah dibangun untuk masyarakat.
Fasilitas air bersih dan sanitasi menjadi bagian penting dari pemulihan karena kehidupan warga tidak hanya membutuhkan pembangunan kembali infrastruktur besar, tetapi juga pemulihan pelayanan dasar.
Aceh Belum Sepenuhnya Pulih
Ada pesan lain yang muncul dari perjalanan tersebut: pemulihan bencana tidak berakhir ketika air telah surut atau perhatian publik mulai berpindah.
Humanies Project, salah satu kelompok yang mengikuti rangkaian perjalanan tersebut, bahkan menggunakan pesan #AcehBelumPulih untuk kembali mengangkat kondisi sejumlah wilayah.
Kelompok tersebut menyatakan masih terdapat bagian-bagian Aceh yang membutuhkan pemulihan dan menyebut perjalanan kembali ke Aceh dilakukan untuk menunaikan amanah yang telah dititipkan masyarakat.
Konteks ini membuat perjalanan Anies berbeda dibanding kunjungannya ke Aceh dalam momentum politik pada tahun-tahun sebelumnya.
Aceh yang dikunjunginya kali ini merupakan daerah yang sedang berusaha memulihkan kehidupan setelah bencana.
Bencana Akhir 2025 Tinggalkan Pekerjaan Panjang
Banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra pada penghujung 2025 meninggalkan pekerjaan pemulihan yang panjang.
Anies sendiri sebelumnya telah mendatangi sejumlah kawasan terdampak pada Desember 2025, termasuk Aceh Tamiang dan Langkat di Sumatra Utara.
Ketika itu, ia menyoroti besarnya dampak banjir dan longsor yang terjadi di Sumatra.
Berbulan-bulan kemudian, persoalannya bergeser dari fase tanggap bencana menuju pemulihan.
Pemerintah juga masih menjalankan berbagai program rehabilitasi dan rekonstruksi. Data Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi yang diberitakan pada akhir Juli menunjukkan pembangunan hunian tetap dan pemulihan infrastruktur di Aceh masih berjalan.
Dari Jembatan hingga Air Bersih
Perjalanan Anies kali ini memperlihatkan bahwa kebutuhan masyarakat pascabencana memiliki bentuk yang beragam.
Di satu tempat, warga membutuhkan jembatan agar anak-anak kembali mudah menuju sekolah dan petani dapat mengakses lahan.
Di tempat lain, kebutuhan mendasarnya berupa air bersih, sanitasi dan ruang bersama.
Inilah yang membuat cerita perjalanan tersebut tidak hanya berada pada sosok Anies Baswedan.
Di balik perjalanan ratusan kilometer itu terdapat cerita masyarakat Aceh yang sedang mengembalikan akses, fasilitas dasar dan kehidupan sehari-hari setelah bencana.
Jembatan Titian Persatuan di Kemerleng kini dapat digunakan warga. Di Aceh Tamiang, fasilitas air bersih, sanitasi dan balai warga menjadi bagian dari proses yang sama.
Perjalanan sekitar 960 kilometer itu pada akhirnya memperlihatkan satu hal: ketika sorotan terhadap sebuah bencana mulai berkurang, bagi masyarakat terdampak, perjalanan untuk benar-benar pulih bisa berlangsung jauh lebih lama. (*)











