BeritaInternasional

Dolar AS Bergerak Stabil, Konflik Timur Tengah Imbangi Dampak Inflasi yang Melandai

Avatar photo
2
×

Dolar AS Bergerak Stabil, Konflik Timur Tengah Imbangi Dampak Inflasi yang Melandai

Sebarkan artikel ini
Dolar AS Bergerak Stabil, Konflik Timur Tengah Imbangi Dampak Inflasi yang Melandai


PRESSCORNER.ID – Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Rabu (15/7/2026), setelah investor menimbang dampak meningkatnya konflik di Timur Tengah dengan data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan dan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Melansir Reuters, dolar AS diperdagangkan relatif tidak berubah di level 162,34 yen. Sementara itu, euro bertahan di US$ 1,1418 dan pound sterling berada di US$ 1,3399.

Indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, naik tipis kurang dari 0,1% ke level 100,97.

Pada perdagangan sebelumnya, indeks dolar turun 0,4%, penurunan harian terbesar dalam hampir dua pekan, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 2 Juli.

Konflik Timur Tengah jadi perhatian

Perhatian pasar kini tertuju pada eskalasi terbaru konflik antara AS dan Iran yang membuat harga minyak tetap bertahan di level tertinggi dalam sekitar satu bulan.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat kembali meningkat.

Militer AS menyatakan telah memulai gelombang baru serangan terhadap Iran pada Rabu pagi waktu setempat, sehari setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran.

Dalam situasi ketidakpastian geopolitik, dolar AS cenderung diuntungkan karena berstatus sebagai aset safe haven.

Selain itu, perekonomian AS dinilai lebih mampu menyerap dampak kenaikan harga energi dibandingkan banyak negara lainnya.

Sebelumnya, dolar sempat tertekan setelah data menunjukkan inflasi konsumen AS melambat lebih besar dari perkiraan pada Juni.

Inflasi tahunan turun menjadi 3,5%, sedangkan indeks harga konsumen (CPI) secara bulanan turun 0,4%, menjadi penurunan pertama sejak April 2020 seiring meredanya harga energi.

Kepala Global Markets ING Chris Turner mengatakan, data inflasi tersebut membuat pasar mulai meragukan kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga pada September.

“Pasar sebelumnya mulai yakin The Fed akan menaikkan suku bunga pada September, tetapi data inflasi terbaru memunculkan keraguan terhadap skenario tersebut,” ujarnya.

Meski demikian, Turner menilai The Fed masih memerlukan beberapa data inflasi yang kembali menunjukkan pelemahan sebelum benar-benar mengesampingkan peluang kenaikan suku bunga tahun ini.

“Dalam jangka pendek, ekspektasi pengetatan kebijakan moneter masih akan bertahan. Karena itu, dolar kemungkinan tetap stabil, tergantung pada perkembangan harga energi,” katanya.

Ketua The Fed Kevin Warsh juga menegaskan di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR AS bahwa bank sentral tidak akan mentoleransi inflasi yang tetap tinggi dan akan menjalankan tugasnya secara independen apabila mendapat tekanan politik.

Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sekitar 70%, sedangkan peluang kenaikan pada pertemuan Juli dinilai sangat kecil.

Di pasar mata uang lainnya, krone Norwegia melemah terhadap euro dan dolar AS setelah inflasi inti Norwegia melambat lebih besar dari perkiraan pada Juni, sehingga mengurangi tekanan bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga bulan depan.

Dolar Selandia Baru bertahan di dekat level tertinggi satu bulan di US$ 0,5821, sementara dolar Australia naik tipis ke US$ 0,6985.

Sementara itu, yuan China sempat menguat ke level tertinggi dalam satu bulan meski pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu melambat menjadi 4,3% pada kuartal II 2026, level terendah dalam lebih dari tiga tahun.

Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa pemerintah China akan kembali meluncurkan stimulus untuk menopang perekonomian.