PRESSCORNER.ID – Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit jangka panjang Indonesia pada level ‘BBB’ dan jangka pendek pada ‘A-2’ dengan prospek (outlook) stabil. Keputusan S&P ini mencerminkan optimisme terhadap pemulihan pendapatan negara serta ketahanan ekonomi domestik, yang antara lain ditopang oleh peran Danantara Indonesia dan anak usahanya, PT Danantara Sumberdaya Indonesia, sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Ulasan S&P dalam laporan yang dirilis 13 Juli 2026 ini menjadi angin segar di tengah tingginya ketidakpastian global. Peringkat yang diberikan menandakan S&P masih menilai kemampuan Indonesia dalam memenuhi kewajiban utangnya tetap kuat, meski tekanan eksternal dan kebutuhan belanja negara terus meningkat.
Secara umum, S&P menilai pelemahan fiskal Indonesia hanya bersifat sementara dan dapat dimitigasi oleh komitmen kebijakan makroekonomi yang prudent (cermat), pemangkasan belanja negara, serta perbaikan kinerja ekspor seiring kenaikan harga komoditas.
S&P juga melihat prospek stabil Indonesia ditopang komitmen kuat pemerintah untuk mempertahankan batas aman defisit anggaran di bawah 3% dari PDB sesuai undang-undang. Dalam rilisnya, S&P menyarankan pemerintah mengambil langkah taktis dengan melakukan efisiensi anggaran, seperti memangkas sepertiga alokasi awal program makan bergizi gratis yang mulanya dianggarkan sebesar lebih dari Rp300 triliun.
Kendati demikian, beban pembayaran bunga utang pemerintah masih menjadi tantangan akibat akumulasi utang masa pandemi. S&P memprediksi rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan negara akan tetap berada di atas kisaran 15% untuk periode 2026–2027 sebelum kembali melandai seiring peningkatan basis penerimaan negara.
Selanjutnya, lembaga pemeringkat internasional ini menilai positif langkah strategis pemerintah mendirikan lembaga baru yang kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi seperti Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Dalam catatan S&P, meskipun rekam jejak operasinya masih singkat, Danantara telah mengubah sektor BUMN di Indonesia melalui konsolidasi dan pemangkasan lini bisnis non-inti.
Selain itu, anak usaha baru Danantara yaitu PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diproyeksikan akan mereformasi sektor ekspor komoditas guna meningkatkan pendapatan negara dan penerimaan ekspor dengan cara menindak tegas praktik kecurangan seperti manipulasi faktur (under invoicing) dan pengalihan keuntungan (transfer pricing).
Bank Indonesia (BI) dinilai tetap mempertahankan independensi operasionalnya secara optimal dalam meredam tekanan inflasi dan nilai tukar. Langkah agresif BI menaikkan suku bunga pada Juni 2026 terbukti efektif meredam tekanan depresiasi rupiah, meskipun memberikan dampak pengetatan jangka pendek bagi pertumbuhan ekonomi domestik.
S&P memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,1% tahun ini, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,9% pada periode 2026–2029. PDB per kapita diperkirakan naik tipis menjadi US5.200 tahun ini dari US5.100 pada tahun 2025, yang sedikit tertahan akibat depresiasi nilai tukar.











