PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Pelemahan berbagai indikator ekonomi belakangan ini mencerminkan belum pulihnya kepercayaan investor asing terhadap perekonomian Indonesia serta kondisi fundamental ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini terlihat dari tekanan yang terjadi di pasar keuangan hingga sektor riil.
Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman mengatakan, investor asing masih sangat berhati-hati untuk masuk ke pasar Indonesia. Selain karena faktor global, faktor domestik juga mempengaruhi terutama bagaimana pemerintah membangun komunikasi publik. Hal itu tercermin dari masih terjadinya arus keluar (outflow) di pasar saham maupun obligasi.
“Indikator-indikator tersebut mencerminkan ketidakpercayaan investor asing terhadap kondisi ekonomi kita. Terlihat bahwa investor sangat berhati-hati untuk masuk ke pasar Indonesia,” ujar Juniman kepada Kontan, Minggu (5/7/2026).
Ia menambahkan, tekanan tersebut juga tercermin dari nilai tukar rupiah yang masih bertahan di kisaran Rp 18.000 per dollar AS. Padahal, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sekitar 100 basis poin, namun tekanan terhadap rupiah belum juga mereda.
Di sisi lain, berbagai indikator ekonomi juga mengindikasikan perlambatan ekonomi pada kuartal II-2026. Salah satunya terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang turun ke zona kontraksi di level 46,9 dari sebelumnya berada di atas level ekspansi.
Menurut Juniman, penurunan PMI tersebut tergolong sangat tajam. Mengacu pada rilis S&P Global, sektor manufaktur tertekan oleh tingginya harga bahan baku impor, perlambatan ekspor, serta melemahnya permintaan domestik sehingga aktivitas produksi mengalami kontraksi pada Juni.
“Kondisi ini mencerminkan tekanan di pasar keuangan, baik di pasar saham maupun obligasi. Di sisi riil, indikator juga belum kondusif,” katanya.
Ia menjelaskan, perlambatan juga terlihat dari penjualan mobil pada Mei yang turun menjadi sekitar 60.000 unit dari sebelumnya sekitar 80.000 unit. Penjualan sepeda motor juga turun dari lebih dari 500.000 unit menjadi sekitar 400.000 unit.
Selain itu, indeks keyakinan konsumen (IKK) turun ke kisaran 124 dan penjualan ritel juga mengalami kontraksi sekitar 3,2%.
“Semua indikator ini perlu dicermati pemerintah karena menunjukkan perlambatan ekonomi secara keseluruhan,” ujar Juniman.
Dengan kondisi tersebut, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 berada di kisaran 5,1% hingga 5,3%, lebih rendah dibandingkan realisasi kuartal I-2026 sebesar 5,61%. Tekanan tersebut diperkirakan masih berlanjut pada kuartal III, meski pemerintah telah menggulirkan stimulus fiskal.
“Stimulus yang diberikan pemerintah lebih bersifat menahan agar perlambatan tidak semakin dalam, kita butuh investasi yang masuk ke dalam negeri, baik investasi langsung (Foreign Direct Investment/FDI) maupun investasi portofolio,” katanya.
Juniman menambahkan, tingginya pemutusan hubungan kerja (PHK), inflasi Juni yang masih berada di kisaran 3,34% YoY dan 0,44% mtm, serta suku bunga yang tinggi turut menekan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut membuat ekspansi sektor manufaktur terhambat sehingga produsen mengurangi output akibat permintaan yang melemah.
Karena itu menurut Juniman, pemulihan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan stimulus jangka pendek. Pemerintah perlu melakukan reformasi struktural dan memperkuat tata kelola kebijakan fiskal agar lebih akuntabel, kredibel, dan transparan untuk mengembalikan kepercayaan investor.
Ia juga menilai konsistensi kebijakan masih menjadi perhatian pelaku pasar. Banyak kebijakan baru muncul sebelum implementasi kebijakan sebelumnya tuntas sehingga menimbulkan kebingungan di kalangan investor.
“Investor melihat kebijakan pemerintah banyak yang tumpang tindih. Kebijakan seperti DHE (Devisa Hasil Ekspor), DSI (Danantara Sumber Daya), PFII (Pusat Financial Internasional Indonesia) belum selesai, kemudian muncul kebijakan baru yang pada akhirnya membuat investor memilih wait and see,” ujarnya.
Menurut Juniman, implementasi berbagai kebijakan di lapangan juga masih menghadapi disrupsi, hambatan, hingga persoalan korupsi yang menggerus kepercayaan investor.
Oleh sebab itu, pemerintah perlu melakukan perbaikan secara menyeluruh, mulai dari reformasi struktural, penguatan kebijakan fiskal, peningkatan kualitas komunikasi publik, hingga implementasi kebijakan yang lebih transparan dan kredibel.
“Kalau perbaikan tersebut dilakukan, arus investasi bisa kembali masuk, baik investasi portofolio maupun investasi langsung (FDI), sehingga dapat memperkuat pasar keuangan sekaligus sektor riil,” jelasnya.
Sebagai informasi, sejumlah indikator ekonomi memang menunjukkan pelemahan. PMI Manufaktur Indonesia turun ke zona kontraksi di level 46,9 pada Juni 2026.
Inflasi Juni 2026 meningkat menjadi 0,44% secara bulanan dari 0,28% pada Mei, sedangkan secara tahunan naik menjadi 3,34% dari 3,08%.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit US$ 1,61 miliar setelah sebelumnya membukukan surplus selama 72 bulan berturut-turut. Rupiah juga masih berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS.
Di sisi lain di pasar keuangan, premi risiko investasi Indonesia masih berada pada level yang relatif tinggi. Per awal Juli 2026, CDS tenor limat tahun mencapai 89,44 atau naik 29,82% secara year to date (YtD) dibandingkan posisi akhir Desember sebesar 69,39. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2022, ketika CDS sempat menyentuh 96,96.
Sementara itu CDS tenor 10 tahun telah mencapai 143,50 atau meningkat 28,32% YtD dibandingkan posisi akhir tahun lalu sebesar 111,83











