BeritaInternasional

Kesepakatan Damai AS–Iran di Depan Mata, Tapi Iran Tunda Tanda Tangan Kesepakatan

Avatar photo
14
×

Kesepakatan Damai AS–Iran di Depan Mata, Tapi Iran Tunda Tanda Tangan Kesepakatan

Sebarkan artikel ini
Kesepakatan Damai AS–Iran di Depan Mata, Tapi Iran Tunda Tanda Tangan Kesepakatan


PRESSCORNER.ID – DUBAI. Harapan berakhirnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan semakin menguat. Namun, Teheran menegaskan bahwa kesepakatan awal yang tengah dinegosiasikan belum akan ditandatangani dalam waktu 24 jam seperti yang sebelumnya disampaikan oleh Pakistan selaku mediator.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan peluang penandatanganan nota kesepahaman damai tetap terbuka dalam beberapa hari mendatang, meski belum dapat dipastikan kapan akan dilakukan.

“Kami harus menunggu dan melihat tanggal pasti penandatanganan nota kesepahaman tersebut, meskipun tidak akan dilakukan besok,” ujar Baghaei seperti dikutip media pemerintah Iran.

Pernyataan itu muncul setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengungkapkan Washington dan Teheran telah menyepakati kerangka dasar perjanjian damai dan tengah mempersiapkan penandatanganan secara elektronik yang diperkirakan berlangsung dalam waktu dekat.

Sharif bahkan menyebut proses tersebut dapat berlangsung pada Minggu, sebelum dilanjutkan dengan pembicaraan teknis pada pekan depan. Namun Iran menilai masih terdapat sejumlah faktor yang membuat proses finalisasi membutuhkan kehati-hatian.

Perang antara kedua negara dimulai pada 28 Februari 2026 setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Konflik kemudian meluas ke kawasan Timur Tengah setelah Iran membalas dengan menyerang target-target militer AS di Teluk, sementara kelompok Hizbullah yang didukung Teheran kembali terlibat dalam pertempuran dengan Israel di Lebanon.

Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon, sekaligus mengguncang pasar energi global. Ketegangan di kawasan menyebabkan gangguan terhadap lalu lintas energi, termasuk di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Sejumlah sumber yang terlibat dalam perundingan menyebut rancangan nota kesepahaman mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sebagai bagian dari kesepakatan awal, Washington disebut akan mulai mencairkan miliaran dolar aset Iran yang selama ini dibekukan serta memberikan pelonggaran terhadap sanksi ekspor minyak Iran.

Sebagai imbalannya, Teheran akan membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz dan melanjutkan pembicaraan mengenai program nuklirnya dalam periode negosiasi selama 60 hari.

Seorang pejabat pemerintahan AS mengatakan kesepakatan tersebut telah memenuhi tujuan utama Presiden Donald Trump dan menempatkan proses negosiasi pada posisi yang sangat positif.

Meski kemajuan signifikan telah dicapai, isu program nuklir Iran masih menjadi perbedaan utama kedua pihak.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa negaranya tidak menerima pembongkaran penuh program nuklir sebagaimana diinginkan Washington. Iran menginginkan uranium yang telah diperkaya tetap dipertahankan dalam bentuk yang telah diencerkan.

Di sisi lain, pemerintah AS menegaskan bahwa hasil akhir negosiasi harus mengarah pada penghancuran dan pemindahan cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran.

Selain isu nuklir, sejumlah sumber menyebut proposal juga mencakup pembahasan kompensasi perang bagi Iran serta kemungkinan pelonggaran tuntutan AS terkait program rudal Teheran. Namun klaim tersebut dibantah oleh pejabat Amerika.

Di tengah perkembangan positif tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tidak akan menjadi bagian dari kesepakatan damai antara AS dan Iran.

Netanyahu sebelumnya beberapa kali berbeda pandangan dengan Trump terkait upaya Washington mendorong deeskalasi konflik di Lebanon guna membuka jalan bagi perundingan dengan Teheran.

Araqchi bahkan menyebut kesepakatan ini berpotensi mengakhiri konflik di Lebanon, yang mengindikasikan kemungkinan penarikan pasukan Israel dari sejumlah wilayah sengketa. Namun pemerintah Israel menegaskan tetap mempertahankan kebebasan untuk bertindak terhadap ancaman yang dianggap membahayakan keamanan negaranya.

Meski belum mencapai tahap final, perkembangan terbaru menunjukkan kedua negara kini berada pada titik paling dekat menuju perdamaian sejak konflik pecah awal tahun ini. Jika berhasil diteken dalam beberapa hari ke depan, kesepakatan tersebut berpotensi mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah sekaligus meredakan tekanan terhadap pasar energi global.