PRESSCORNER.ID – LONDON. Harga minyak dunia jatuh hampir 3% pada perdagangan Jumat (12/6/2026) dan menyentuh level terendah dalam hampir dua bulan terakhir.
Pelemahan ini dipicu meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan baru terhadap Iran.
Kontrak minyak Brent turun US$ 2,27 atau 2,5% menjadi US$ 88,11 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi US$ 2,47 atau 2,8% ke level US$ 85,24 per barel. Keduanya berada di titik terendah sejak 17 April 2026.
Sentimen pasar berubah cepat setelah muncul sinyal bahwa Washington dan Teheran berpotensi mencapai kesepakatan untuk menghentikan konflik di kawasan Teluk.
Seorang sumber Barat menyebut memorandum perdamaian antara kedua negara bahkan bisa ditandatangani paling cepat pada Minggu (14/6) di Jenewa, Swiss.
Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan tersebut masih dibayangi ketidakpastian. Kantor berita Fars yang dekat dengan pemerintah Iran membantah laporan bahwa penandatanganan perjanjian akan berlangsung akhir pekan ini.
Sementara itu, media Iran melaporkan pembahasan akhir masih akan berfokus pada isu nuklir dan ekonomi, tanpa menyentuh program rudal Iran.
Harapan bahwa konflik akan mereda membuat pasar mulai mengurangi premi risiko yang sebelumnya mendorong lonjakan harga minyak. Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, mengatakan pergerakan pasar saat ini sepenuhnya digerakkan oleh perkembangan terbaru terkait negosiasi kedua negara.
“Kepercayaan pasar semakin meningkat bahwa kesepakatan pada akhirnya akan tercapai dan Selat Hormuz akan kembali terbuka,” ujarnya.
Meski demikian, Varga mengingatkan bahwa stok minyak global masih relatif rendah. Bahkan jika kesepakatan tercapai, pemulihan arus pasokan minyak tidak akan terjadi secara instan sehingga risiko gangguan pasokan masih membayangi pasar.
Sehari sebelumnya, Iran mengumumkan penutupan penuh Selat Hormuz dan mengancam akan menembak kapal yang melintas.
Jalur pelayaran strategis tersebut selama ini menjadi rute sekitar 20% pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Namun militer AS menyatakan kapal-kapal komersial masih dapat melintasi kawasan tersebut.
Meski harga minyak saat ini tertekan, sejumlah analis menilai risiko kenaikan masih terbuka. ING memperkirakan pasar dapat berbalik menguat mulai akhir Juli apabila arus pasokan minyak melalui Selat Hormuz belum kembali normal.
Pada saat yang sama, meningkatnya permintaan musiman dan menurunnya persediaan minyak global berpotensi mendorong harga melonjak ke kisaran US$120 hingga US$130 per barel.
Di sisi lain, prospek permintaan minyak dunia juga menjadi perhatian. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 menjadi 970.000 barel per hari, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 1,17 juta barel per hari. Ini menjadi revisi penurunan kedua secara beruntun.
Meski demikian, OPEC memperkirakan konsumsi minyak akan kembali menguat pada 2027. Organisasi tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak tahun 2027 menjadi 1,73 juta barel per hari, atau lebih tinggi 190.000 barel per hari dibandingkan estimasi sebelumnya.
Pandangan serupa datang dari Goldman Sachs yang memangkas proyeksi rata-rata harga Brent untuk 2027 menjadi US$80 per barel akibat meningkatnya pasokan dan melambatnya pertumbuhan permintaan.
Namun bank investasi tersebut tetap memperkirakan harga minyak akan memperoleh dukungan dari akumulasi cadangan minyak negara-negara maju serta premi risiko geopolitik yang masih tinggi.
Dengan kata lain, pelemahan harga minyak saat ini lebih banyak dipicu meredanya ketegangan geopolitik. Namun pasar energi global masih menghadapi ketidakpastian besar terkait pasokan dan permintaan, sehingga volatilitas harga diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.











