BeritaInternasional

Harga Minyak Naik, Bursa Asia Tertekan dan Yield Obligasi Melonjak

Avatar photo
13
×

Harga Minyak Naik, Bursa Asia Tertekan dan Yield Obligasi Melonjak

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Naik, Bursa Asia Tertekan dan Yield Obligasi Melonjak


PRESSCORNER.ID – Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026) seiring lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi global yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh bank sentral.

Sentimen pasar memburuk setelah serangan drone terbaru di kawasan Teluk memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Sebuah serangan drone menyebabkan kebakaran di pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab, sementara Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat tiga drone.

Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan Iran agar segera mencapai kesepakatan, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kekhawatiran pasar makin dalam setelah Selat Hormuz jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia dilaporkan nyaris tertutup untuk aktivitas pelayaran.

Analis Capital Economics memperingatkan penutupan Selat Hormuz dapat menguras cadangan minyak global dengan cepat.

“Jika kondisi ini berlanjut hingga akhir tahun dan harga minyak bertahan di kisaran US$ 150 per barel sampai 2027, inflasi di Inggris dan zona euro bisa mendekati 10%, suku bunga kembali melonjak, dan ekonomi global berisiko masuk resesi,” tulis Capital Economics.

Harga minyak Brent naik 1,2% ke level US$ 110,63 per barel, sedangkan minyak mentah AS menguat 1,0% menjadi US$ 106,42 per barel.

Kenaikan harga energi mendorong aksi jual di pasar obligasi global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,584%, setelah melonjak 23 basis poin pekan lalu. Sementara yield obligasi tenor 30 tahun bertahan di level 5,109%.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve tahun ini berada di kisaran 50:50.

Pelaku pasar juga menanti risalah rapat terakhir The Fed yang akan dirilis Rabu (21/5) untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Di pasar saham, indeks Nikkei Jepang turun 0,4%, sedangkan saham Korea Selatan terkoreksi 2,1% setelah reli panjang sektor semikonduktor mulai mereda.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang melemah 0,6%. Pasar China juga bersiap menghadapi rilis data penjualan ritel dan produksi industri April yang diperkirakan memengaruhi arah perdagangan berikutnya.

Sementara itu, perhatian investor pekan ini juga tertuju pada laporan keuangan Nvidia yang dijadwalkan rilis Rabu (21/5). Laporan tersebut dipandang menjadi ujian penting bagi reli saham teknologi berbasis AI.

Saham Nvidia sendiri telah melonjak 36% sejak posisi terendah Maret lalu, sementara indeks semikonduktor Philadelphia telah melesat lebih dari 60% berkat tingginya permintaan chip AI.

Selain Nvidia, sejumlah perusahaan ritel besar seperti Walmart juga akan merilis kinerja keuangan pekan ini untuk memberikan gambaran kondisi belanja konsumen di tengah tingginya harga energi.

Di pasar mata uang, dolar AS tetap menguat karena dianggap sebagai aset likuid utama saat risiko global meningkat. Euro berada di level US$ 1,1620, sedangkan pound sterling turun ke US$ 1,3318.

Sementara itu, harga emas cenderung stagnan di level US$ 4.540 per ons dan belum menunjukkan penguatan signifikan sebagai aset safe haven.