PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas pada Sabtu (9/5/2026), di tengah situasi gencatan senjata yang rapuh. Kedua negara dilaporkan masih saling melancarkan serangan di kawasan Teluk, sementara proses diplomasi untuk mengakhiri konflik belum menunjukkan kemajuan signifikan.
Menurut laporan, bentrokan terbaru terjadi di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Wilayah ini kembali menjadi titik panas setelah eskalasi militer meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Eskalasi di Jalur Energi Global
Selat Hormuz, yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, kini mengalami gangguan serius sejak konflik pecah antara AS dan Israel dengan Iran pada 28 Februari. Iran dilaporkan telah membatasi sebagian besar lalu lintas kapal non-Iran di kawasan tersebut.
Di sisi lain, militer AS menyebut telah menyerang dua kapal yang terkait dengan Iran saat mencoba memasuki pelabuhan, dengan menggunakan pesawat tempur untuk memaksa kapal tersebut mundur.
Sementara itu, media semi-resmi Iran melaporkan adanya bentrokan sporadis antara pasukan Iran dan kapal militer AS di kawasan Selat Hormuz, meski kemudian situasi disebut mulai mereda, namun potensi eskalasi masih tinggi.
Intelijen AS: Iran Masih Tahan Tekanan
Laporan intelijen Amerika Serikat menyebutkan bahwa Iran diperkirakan masih mampu bertahan dari blokade laut selama beberapa bulan ke depan, meskipun Washington telah memberlakukan tekanan ekonomi dan militer.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas strategi tekanan yang dilakukan oleh pemerintahan Donald Trump dalam konflik yang juga menuai kritik dari sejumlah sekutu AS.
Serangan Meluas ke Uni Emirat Arab
Ketegangan tidak hanya terjadi di laut. Uni Emirat Arab melaporkan sistem pertahanannya berhasil mencegat dua rudal balistik dan tiga drone yang diluncurkan dari Iran. Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya tiga orang mengalami luka.
Iran disebut beberapa kali menargetkan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Situasi ini semakin memperluas potensi konflik regional di Timur Tengah.
Diplomasi Mandek, Sanksi Diperketat
Di tengah eskalasi militer, upaya diplomasi masih berlangsung namun belum membuahkan hasil. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut Washington masih menunggu respons resmi Iran terkait proposal untuk mengakhiri perang.
Namun pihak Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan masih mempertimbangkan proposal tersebut.
Sementara itu, AS juga memperketat tekanan ekonomi dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah individu dan perusahaan di China dan Hong Kong yang dituduh membantu pengadaan material militer Iran, termasuk komponen drone Shahed.
Departemen Keuangan AS menegaskan siap menerapkan sanksi lanjutan terhadap perusahaan asing yang terlibat dalam perdagangan ilegal dengan Iran, termasuk lembaga keuangan yang berhubungan dengan kilang minyak independen.
Gencatan Senjata Masih Rapuh
Meski Presiden Trump menyebut gencatan senjata yang diumumkan sejak 7 April masih bertahan, Iran menuduh AS melanggar kesepakatan tersebut. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kesepakatan damai masih sangat rapuh dan berisiko runtuh sewaktu-waktu.
Ketegangan di Selat Hormuz kini menjadi sorotan global karena berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dunia serta memicu volatilitas harga minyak internasional.











