BeritaInternasional

Perang Iran dan Kebijakan Trump Picu Kekhawatiran Sekutu AS

Avatar photo
10
×

Perang Iran dan Kebijakan Trump Picu Kekhawatiran Sekutu AS

Sebarkan artikel ini
Perang Iran dan Kebijakan Trump Picu Kekhawatiran Sekutu AS


PRESSCORNER.ID – WASHINGTON. Kebijakan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kekhawatiran di kalangan sekutu tradisional Washington.

Mulai dari penarikan sebagian pasukan AS dari Jerman, ancaman pengurangan kekuatan militer di negara-negara Eropa lain, hingga respons yang dinilai meremehkan serangan Iran terhadap mitra penting di Teluk, langkah Trump dinilai memperdalam keretakan hubungan dengan sekutu utama AS.

Di tengah upaya AS dan Iran mencari jalan keluar dari perang yang telah berlangsung selama 10 minggu, tindakan dan pernyataan Trump justru menimbulkan kekhawatiran baru di Eropa, Timur Tengah, hingga Indo-Pasifik terkait keandalan AS dalam menghadapi krisis di masa depan.

Sejumlah mitra tradisional AS kini mulai menyesuaikan strategi mereka untuk mengurangi ketergantungan terhadap Washington. Di saat yang sama, rival geopolitik seperti China dan Russia disebut tengah mencermati peluang strategis dari melemahnya hubungan AS dengan sekutunya.

Para analis menilai kebijakan Trump sejak kembali menjabat telah mengguncang tatanan global berbasis aturan dan berpotensi mempercepat erosi aliansi internasional AS, khususnya dengan NATO.

“Kenekatan Trump terkait Iran memicu sejumlah perubahan besar,” kata Brett Bruen, mantan penasihat pemerintahan Obama yang kini memimpin konsultan strategis Situation Room. “Kredibilitas Amerika Serikat sedang dipertaruhkan.”

Ketegangan antara Trump dan negara-negara Eropa semakin meningkat setelah AS bergabung dengan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Trump menuduh Teheran hampir mengembangkan senjata nuklir, meski tanpa menyertakan bukti.

Sebagai balasan, Iran menutup Selat Hormuz yang memicu guncangan besar di pasar energi global. Negara-negara Eropa menjadi salah satu pihak yang paling terdampak secara ekonomi akibat lonjakan harga energi dan terganggunya rantai pasok.

Sebelumnya, Trump juga telah membuat sekutu AS resah lewat kebijakan tarif impor besar-besaran, dorongan mengambil alih Greenland dari Denmark, hingga penghentian bantuan militer untuk Ukraina.

Hubungan semakin memburuk ketika Trump mengumumkan penarikan 5.000 personel dari total 36.400 tentara AS yang ditempatkan di Jerman. Keputusan itu muncul setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan secara terbuka bahwa Iran telah mempermalukan AS.

Tak hanya itu, Pentagon juga membatalkan rencana penempatan rudal jelajah Tomahawk di Jerman. Trump bahkan menyatakan tengah mempertimbangkan pengurangan pasukan AS di Italia dan Spanyol yang dinilai tidak sejalan dengan kebijakan perang terhadap Iran.

Trump, yang sejak lama mempertanyakan manfaat keberadaan AS di NATO, juga mengkritik sekutu-sekutu yang dianggap tidak cukup mendukung operasi militer AS. Ia bahkan memberi sinyal bahwa Washington mungkin tidak lagi sepenuhnya berkomitmen pada Pasal 5 NATO mengenai pertahanan bersama.

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan Trump kecewa terhadap NATO dan sejumlah sekutu karena beberapa negara menolak penggunaan pangkalan militer di Eropa untuk mendukung operasi perang melawan Iran.

Meski demikian, Kelly menegaskan Trump telah memperkuat posisi AS di panggung global dan tidak akan membiarkan negaranya diperlakukan tidak adil oleh para sekutu.

Di Eropa, situasi ini mendorong negara-negara kawasan meningkatkan kerja sama pertahanan, memperbesar anggaran militer, dan mempercepat pengembangan sistem persenjataan bersama guna mengurangi ketergantungan terhadap AS.

Namun para analis menilai proses menuju kemandirian pertahanan Eropa masih akan memakan waktu panjang, mengingat ketergantungan strategis mereka terhadap perlindungan militer AS dari potensi ancaman Rusia.

Ketegangan aliansi AS tidak hanya terjadi di Eropa. Negara-negara Teluk juga mulai mempertanyakan komitmen Washington setelah Iran meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap Uni Emirat Arab, salah satu sekutu dekat AS.

Trump dinilai meremehkan serangan tersebut meskipun serangan itu memicu kebakaran di pelabuhan minyak Fujairah dan memaksa pemerintah setempat menutup sekolah.

Di kawasan Asia, sekutu seperti Jepang dan Korea Selatan juga mulai khawatir terhadap arah kebijakan luar negeri Trump. Selain terbebani tarif tinggi dari AS, negara-negara tersebut mempertanyakan konsistensi komitmen Washington dalam menghadapi potensi konflik dengan China, termasuk jika terjadi krisis di Taiwan.

Mantan Menteri Luar Negeri Jepang Takeshi Iwaya mengatakan kepercayaan dan harapan terhadap AS sebagai mitra utama Jepang terus menurun.

“Hal itu bisa menimbulkan dampak jangka panjang bagi seluruh kawasan,” ujarnya kepada Reuters

Sementara itu, China dan Rusia dinilai berupaya memanfaatkan situasi tersebut. Rusia diuntungkan dari kenaikan harga minyak dan gas akibat perang Iran, sementara China melihat peluang untuk memperkuat citranya sebagai mitra global yang lebih stabil dibanding pemerintahan Trump yang dinilai tidak dapat diprediksi.

Meski demikian, Victoria Coates, mantan wakil penasihat keamanan nasional Trump periode pertama, menilai China tidak akan mudah memanfaatkan perang Iran untuk menggambarkan AS sebagai sumber destabilisasi global.

Menurutnya, Beijing juga tidak menunjukkan dukungan penuh terhadap Iran selama konflik berlangsung.