BeritaInternasional

Parade Kemenangan Rusia Sepi Alutsista, Putin Tetap Janjikan Kemenangan

Avatar photo
5
×

Parade Kemenangan Rusia Sepi Alutsista, Putin Tetap Janjikan Kemenangan

Sebarkan artikel ini
Parade Kemenangan Rusia Sepi Alutsista, Putin Tetap Janjikan Kemenangan


PRESSCORNER.ID – MOSKOW. Rusia menggelar parade Hari Kemenangan atau Victory Day dengan skala paling sederhana dalam beberapa tahun terakhir pada Sabtu (9/5), di tengah ancaman serangan dari Ukraina serta berlarutnya perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.

Parade 9 Mei di Lapangan Merah Moskow merupakan hari nasional paling sakral bagi Rusia untuk memperingati kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman dalam World War II. Momentum ini juga menjadi penghormatan bagi sekitar 27 juta warga Soviet, termasuk banyak warga Ukraina, yang tewas selama perang.

Berbeda dengan parade tahun-tahun sebelumnya yang menampilkan kekuatan militer Rusia secara besar-besaran, termasuk rudal balistik antarbenua berkemampuan nuklir, tahun ini tidak ada tank maupun kendaraan militer berat yang melintasi Lapangan Merah.

Sebagai gantinya, sejumlah sistem persenjataan modern Rusia ditampilkan melalui layar raksasa di Lapangan Merah dan siaran televisi pemerintah. Persenjataan tersebut meliputi rudal balistik antarbenua Yars, kapal selam nuklir Arkhangelsk, senjata laser Peresvet, jet tempur Sukhoi Su-57, sistem rudal pertahanan udara S-500, hingga berbagai drone dan artileri.

Pasukan tentara dan pelaut Rusia, termasuk yang pernah bertugas di Ukraina, tetap mengikuti parade di hadapan Presiden Rusia Vladimir Putin yang duduk bersama para veteran perang di dekat Mausoleum Vladimir Lenin. Pasukan Korea Utara yang disebut ikut bertempur melawan Ukraina di wilayah Kursk, Rusia, juga turut ambil bagian dalam parade tersebut.

Pesawat tempur Rusia terbang melintasi Kremlin, sementara Putin menyampaikan pidato selama delapan menit yang menegaskan keyakinannya terhadap kemenangan Rusia dalam perang di Ukraina yang oleh Kremlin disebut sebagai “operasi militer khusus”.

“Prestasi besar generasi pemenang menginspirasi para prajurit yang menjalankan tugas operasi militer khusus saat ini,” kata Putin.

Ia menambahkan: “Mereka menghadapi kekuatan agresif yang dipersenjatai dan didukung oleh seluruh blok NATO. Meski demikian, para pahlawan kami terus maju.”

Trump Dorong Perpanjangan Gencatan Senjata

Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama tiga hari mulai Sabtu hingga Senin yang didukung oleh Moskow maupun Kyiv. Kedua pihak juga sepakat melakukan pertukaran 1.000 tahanan perang.

“Saya ingin ini berhenti. Rusia-Ukraina — ini adalah hal terburuk sejak Perang Dunia Kedua dalam hal korban jiwa. Dua puluh lima ribu tentara muda setiap bulan. Ini gila,” ujar Trump kepada wartawan di Washington.

Trump juga menyatakan ingin melihat perpanjangan gencatan senjata tersebut guna mengurangi korban jiwa dalam konflik yang terus berkepanjangan.

Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai pelanggaran gencatan senjata dari kedua belah pihak.

Moskow Perketat Keamanan

Rusia sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap upaya Ukraina mengganggu parade Hari Kemenangan akan dibalas dengan serangan rudal besar-besaran ke ibu kota Ukraina, Kyiv. Pemerintah Rusia bahkan meminta diplomat asing untuk mengevakuasi staf mereka dari Kyiv apabila serangan semacam itu terjadi.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengeluarkan pernyataan bernada satir yang “mengizinkan” parade militer Rusia tetap berlangsung dan menyebut senjata Ukraina tidak akan menargetkan Lapangan Merah.

Pengamanan di Moskow diperketat secara signifikan. Foto-foto Reuters memperlihatkan tentara bersenjata ditempatkan di atas kendaraan pikap serta penutupan sejumlah jalan di pusat kota Moskow dan wilayah sekitarnya yang dihuni sekitar 22 juta penduduk.

Bayang-Bayang Perang Ukraina

Perang Rusia-Ukraina yang dimulai sejak invasi Rusia pada 2022 telah menewaskan ratusan ribu orang, menghancurkan sebagian wilayah Ukraina, serta menekan ekonomi Rusia yang bernilai sekitar US$ 3 triliun.

Hubungan Rusia dengan negara-negara Eropa juga memburuk ke titik terendah sejak era Perang Dingin. 

Nasionalis Rusia pendukung perang, Igor Girkin, yang kini dipenjara dan kerap mengkritik Kremlin, menyebut krisis di Rusia terus memburuk dan dapat memicu guncangan besar terhadap ekonomi maupun stabilitas negara.

Di sisi lain, Kremlin membantah laporan media Barat, termasuk CNN, yang menyebut perlindungan terhadap Putin diperketat karena kekhawatiran terhadap kemungkinan kudeta atau upaya pembunuhan.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut laporan tersebut sebagai omong kosong. Nama mantan Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, sempat disebut dalam laporan intelijen Eropa sebagai sosok potensial dalam skenario kudeta, namun Shoigu terlihat hadir dalam parade dan duduk bersama pejabat tinggi Rusia lainnya.