BeritaBisnis

Cadangan Devisa Turun, Ekonom Soroti Meningkatnya Biaya Stabilisasi Rupiah

Avatar photo
9
×

Cadangan Devisa Turun, Ekonom Soroti Meningkatnya Biaya Stabilisasi Rupiah

Sebarkan artikel ini
Cadangan Devisa Turun, Ekonom Soroti Meningkatnya Biaya Stabilisasi Rupiah


PRESSCORNER.ID-JAKARTA. Penurunan cadangan devisa Indonesia pada April 2026 mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap kebutuhan valuta asing di tengah gejolak pasar keuangan global.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai penurunan cadangan devisa terjadi karena dua faktor utama yang berlangsung bersamaan, yakni meningkatnya kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah pada kuartal II-2026 serta langkah stabilisasi rupiah yang tetap dilakukan Bank Indonesia (BI) di tengah tekanan eksternal. 

Ia menjelaskan, tekanan pasar dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah, meningkatnya persepsi risiko terhadap aset negara berkembang, hingga sentimen domestik seperti perubahan pandangan lembaga pemeringkat dan risiko penurunan bobot Indonesia di indeks saham global. 

Secara resmi, BI mencatat posisi cadangan devisa turun dari US$ 148,2 miliar pada akhir Maret menjadi US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026. 

Penurunan tersebut terjadi meskipun terdapat aliran masuk dari penerimaan pajak, jasa, dan penerbitan obligasi global pemerintah. 

Josua menilai tekanan terbesar terlihat pada komponen cadangan dalam valuta asing yang turun sekitar US$ 2,09 miliar, dari US$ 126,04 miliar menjadi US$ 123,95 miliar. 

Sementara itu, nilai cadangan emas justru naik tipis dari US$ 12,78 miliar menjadi US$ 12,87 miliar sehingga sedikit menahan penurunan keseluruhan cadangan devisa. 

“Artinya, penurunan April bukan semata karena perubahan nilai aset, tetapi lebih mencerminkan berkurangnya likuiditas valas yang paling mudah digunakan untuk pembayaran luar negeri dan stabilisasi pasar,” ujar Josua kepada PRESSCORNER.ID, Jumat (8/5/2026).

Ia menambahkan, masuknya dana dari penerbitan Samurai Bond maupun aliran modal ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebenarnya dapat membantu menahan penurunan cadangan devisa. 

Namun tekanan terhadap rupiah dan kebutuhan pembayaran eksternal pemerintah membuat tambahan pasokan valas belum mampu mendorong kenaikan cadangan devisa. 

Menurut Josua, kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap neraca eksternal Indonesia tidak hanya berasal dari transaksi berjalan, tetapi juga dari kebutuhan menjaga kepercayaan pasar keuangan. 

Dalam jangka pendek, ia memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak volatil dan cenderung melemah apabila ketegangan geopolitik belum mereda, harga minyak tetap tinggi, dan investor global masih mengurangi eksposur pada aset negara berkembang.

Josua juga mengingatkan tekanan terhadap rupiah dapat semakin besar apabila arus keluar modal dari pasar saham berlanjut dan pasar SBN belum sepenuhnya pulih pasca perubahan pandangan lembaga pemeringkat. 

Meski demikian, ia menilai pelemahan rupiah lebih dipengaruhi kombinasi ketidakpastian global dan persepsi risiko domestik dibandingkan faktor fundamental moneter semata. 

Untuk jangka pendek, Josua memperkirakan cadangan devisa masih berpeluang bertahan di kisaran US$ 145 miliar atau sedikit di bawahnya jika BI tetap aktif melakukan stabilisasi rupiah. 

Namun ia menilai ruang penurunan tetap ada, terutama jika harga minyak global bertahan tinggi dan rupiah bergerak di atas Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu cukup lama. 

Dalam situasi tersebut, tekanan terhadap impor migas berpotensi meningkat sehingga neraca perdagangan menyempit dan defisit transaksi berjalan melebar. 

Ia juga memperkirakan Bank Indonesia akan lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga, bahkan masih membuka ruang kenaikan suku bunga apabila stabilitas rupiah menjadi prioritas utama. 

Meski demikian, Josua menegaskan posisi cadangan devisa Indonesia masih tergolong aman. Nilai US$ 146,2 miliar setara dengan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. 

“Ini berarti cadangan devisa masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, menjaga kepercayaan pasar, dan menyediakan bantalan bagi BI untuk meredam tekanan rupiah,” katanya. 

Namun demikian, Josua mengingatkan tren penurunan cadangan devisa tetap perlu dicermati.

Dari posisi akhir 2025 sebesar sekitar US$ 156,47 miliar, cadangan devisa turun bertahap menjadi US$ 146,20 miliar pada April 2026 atau berkurang lebih dari US$ 10 miliar dalam empat bulan. 

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan biaya menjaga stabilitas rupiah semakin meningkat sehingga kebijakan tidak cukup hanya mengandalkan intervensi BI.

Pemerintah dinilai perlu memperkuat kepercayaan investor melalui kepastian fiskal, pengendalian risiko subsidi energi, reformasi pasar keuangan, serta kebijakan industri yang mampu menjaga ekspor dan mengurangi ketergantungan impor energi. 

“Tanpa perbaikan di sisi tersebut, cadangan devisa memang masih aman, tetapi tekanan terhadap rupiah dapat berulang dan membuat ruang kebijakan moneter semakin sempit,” pungkasnya.