PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61% secara year on year (YoY). Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan pertumbuhan pada kuartal I-2025 yang hanya 4,87% YoY.
Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut melebihi ekspektasi pasar sebesar 5,3% dan menandai laju ekspansi tercepat sejak kuartal III – 2022 berkat kekuatan permintaan domestik selama lebaran, pengeluaran pemerintah terkait program makan gratis (MBG), dan efek basis rendah pada kuartal I – 2025.
Konsumsi swasta, yang lebih dari setengah produk domestik bruto (PDB), meningkat menjadi 5,52% yoy. Sementara pengeluaran pemerintah melonjak 21,81% yoy, mencerminkan percepatan pencairan fiskal dan dukungan kebijakan yang diberikan di awal periode.
“Namun, di balik kekuatan utama tersebut, beberapa sinyal moderasi mulai muncul. Pertumbuhan investasi sedikit melambat menjadi 5,96% (dari 6,12%), menunjukkan tingkat kehati-hatian di kalangan perusahaan di tengah ketidakpastian global dan kondisi keuangan yang lebih ketat,” jelas Samuel Sekuritas dalam risetnya dikutip Jumat (8/5/2026).
Sementara itu, sektor eksternal menjadi kurang mendukung. Pertumbuhan ekspor melambat tajam menjadi 0,90%, sedangkan impor pulih menjadi 7,18%, yang mengimplikasikan kontribusi ekspor bersih negatif.
Dari perspektif yang lebih luas, hasil kuartal pertama menunjukkan bahwa Indonesia telah mengalami pertumbuhan PDB triwulanan tertinggi pada tahun 2026, khususnya karena depresiasi rupiah yang tajam saat ini akan menghambat ekspansi ekonomi pada kuartal-kuartal berikutnya.
Selain itu, Indonesia akan menghadapi tantangan dari lingkungan eksternal yang lebih tidak pasti. Sementara pada saat yang sama, kebijakan domestik pasca Lebaran menjadi kurang efektif dalam mendorong pertumbuhan ke depan.
“Dengan demikian, ke depan, kami memperkirakan pertumbuhan akan tetap tangguh tetapi secara bertahap normalisasi menuju kisaran 5,3%–5,5% untuk tahun penuh 2026, secara umum masih sejalan dengan prospek konsensus saat ini sebesar 5,4%,” ucap Samuel Sekuritas.
Samuel Sekuritas melihat bahwa keberlanjutan konsumsi akan bergantung pada pemulihan pendapatan riil dan stabilitas inflasi di tengah kenaikan harga energi yang diiringi dengan pelemahan rupiah. Sementara dukungan fiskal yang berkelanjutan—meskipun kemungkinan kurang agresif daripada di kuartal I— harus tetap menjadi penyangga utama.
Namun, risiko penurunan tetap ada dari sisi eksternal, termasuk ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, perdagangan global yang lebih lemah, dan volatilitas pasar keuangan.
“Dalam konteks ini, menjaga stabilitas makro—terutama manajemen nilai tukar dan koordinasi kebijakan yang terukur dengan BI—akan sangat penting dalam menjaga pertumbuhan sekaligus melindungi kepercayaan investor,” pungkas Samuel Sekuritas.











