Presscorner.id — Pelayanan kesehatan modern kini tidak lagi sekadar soal ketepatan diagnosis dan kecanggihan alat medis. Aspek psikologis dan dukungan moral di lingkungan rumah sakit mulai menempati posisi krusial dalam proses pemulihan pasien. Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Daya Makassar, peran ini justru tampil melalui wajah-wajah yang selama ini kerap terpinggirkan: para petugas kebersihan (cleaning service).
Belakangan ini, potret pelayanan humanis di RSUD Daya menjadi perbincangan publik setelah unggahan video di media sosial menunjukkan sigapnya petugas kebersihan dalam mendampingi pasien. Mereka tidak hanya mengayunkan sapu dan pel, tetapi juga hadir sebagai “teman” bagi pasien yang tengah menunggu keluarga atau mereka yang datang tanpa pendamping.
Fenomena ini memicu gelombang apresiasi dari warga net. Banyak di antaranya membagikan pengalaman serupa mengenai bagaimana petugas non-medis di rumah sakit tersebut membantu kebutuhan sederhana hingga sekadar memberikan ketenangan psikologis bagi pasien yang cemas.
Direktur Utama RSUD Daya, dr. A. Any Muliany, menyatakan bahwa pelayanan kesehatan harus dibangun secara holistik. Empati dan kemanusiaan tidak boleh hanya menjadi beban kerja tenaga medis, tetapi harus menjadi budaya kolektif seluruh elemen rumah sakit.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap pasien merasakan kepedulian. Apa yang dilakukan oleh petugas cleaning service adalah wujud nyata pelayanan dari hati,” ujar Any di Makassar, Jumat (8/5/2026).
Menurut Any, kehadiran petugas yang peduli memberikan dampak positif terhadap kondisi psikologis pasien. Dalam dunia medis, rasa aman dan nyaman merupakan katalisator yang mempercepat respon tubuh terhadap pengobatan. Ketika pasien merasa tidak sendirian, tingkat stres menurun, dan optimisme untuk sembuh meningkat.
Standardisasi Pelayanan Prima
Sikap humanis yang ditunjukkan para petugas kebersihan ini rupanya bukan sekadar aksi spontan individu, melainkan hasil dari penguatan manajemen yang terstruktur. PT BBP, selaku pengelola manajemen kebersihan di RSUD Daya, menerapkan konsep 4G: Grooming (penampilan), Gesture (sikap tubuh), Greeting (keramahan), dan Global Ethics (etika universal).
Melalui pelatihan Service Excellence (pelayanan prima), para petugas dibekali kemampuan komunikasi efektif dan pemahaman tentang pentingnya menciptakan pengalaman positif bagi pasien. Hal ini membuktikan bahwa profesi penunjang memiliki nilai strategis dalam menjaga citra serta kualitas pelayanan publik.
Komitmen RSUD Daya untuk mempertahankan budaya kerja berlandaskan nilai empati ini menjadi catatan penting di tengah tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang lebih memanusiakan manusia. Bagi rumah sakit ini, kebersihan lingkungan adalah kewajiban, namun ketulusan dalam melayani adalah sebuah nilai lebih yang ingin terus dipertahankan. (*)











