BeritaInternasional

AS–Iran Dekati Kesepakatan Jangka Pendek, Fokus Stabilkan Selat Hormuz

Avatar photo
7
×

AS–Iran Dekati Kesepakatan Jangka Pendek, Fokus Stabilkan Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
AS–Iran Dekati Kesepakatan Jangka Pendek, Fokus Stabilkan Selat Hormuz


PRESSCORNER.ID – ISLAMABAD/WASHINGTON/DUBAI. Amerika Serikat (AS) dan Iran disebut semakin dekat pada kesepakatan sementara untuk menghentikan konflik yang sedang berlangsung, meski sejumlah isu utama masih belum terselesaikan, menurut sumber dan pejabat yang terlibat dalam negosiasi.

Rencana yang tengah dibahas mengarah pada sebuah kesepakatan jangka pendek dalam bentuk memorandum, bukan perjanjian damai komprehensif.

Langkah ini mencerminkan masih lebarnya perbedaan antara kedua pihak, namun dinilai sebagai tahap awal untuk meredakan ketegangan.

Fokus utama kesepakatan sementara tersebut adalah penghentian pertempuran dan stabilisasi jalur perdagangan di Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak paling strategis di dunia.

Seorang pejabat senior Pakistan yang terlibat dalam mediasi menyebut prioritas utama adalah penghentian permanen perang sebelum membahas isu lain secara lebih rinci.

“Prioritas kami adalah mereka mengumumkan akhir perang secara permanen, dan isu lainnya bisa dibahas dalam perundingan lanjutan,” ujarnya kepada Reuters Kamis (7/5/2026).

Skema yang diusulkan terdiri dari tiga tahap: penghentian konflik secara formal, normalisasi situasi di Selat Hormuz, dan pembukaan jendela negosiasi 30 hari untuk kesepakatan yang lebih luas.

Tehran dilaporkan tengah mengkaji proposal tersebut, termasuk dalam komunikasi antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar, yang berperan dalam upaya mediasi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan optimisme terhadap perkembangan ini.

“Kami tetap optimistis. Jawaban singkatnya, kami berharap kesepakatan tercapai lebih cepat daripada lambat,” ujarnya di Islamabad.

Trump optimistis, Iran masih skeptis

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan nada optimistis terkait peluang kesepakatan, meski konflik telah berlangsung sejak 28 Februari.

“Mereka ingin membuat kesepakatan… sangat mungkin terjadi,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Namun, sejumlah pejabat dan politisi Iran merespons dengan skeptis, menyebut proposal tersebut belum mencerminkan kepentingan Tehran.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan akan memberikan respons pada waktunya, sementara anggota parlemen Ebrahim Rezaei menyebut proposal itu lebih menyerupai “daftar keinginan Amerika” ketimbang kesepakatan nyata.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf bahkan menyindir perkembangan tersebut di media sosial, menilai narasi kesepakatan sebagai upaya pencitraan politik.

Pasar bereaksi: minyak turun, saham menguat

Kabar mengenai potensi kesepakatan sementara langsung memengaruhi pasar global. Harga minyak Brent turun sekitar 3% ke level sekitar US$98 per barel, melanjutkan penurunan hampir 8% pada sesi sebelumnya.

Indeks saham global juga menguat, sementara imbal hasil obligasi turun di tengah meningkatnya optimisme bahwa gangguan pasokan energi dapat mereda.

“Isi proposal memang masih tipis, tetapi pasar menilai kemungkinan eskalasi militer lanjutan semakin kecil,” ujar Takamasa Ikeda, Senior Portfolio Manager GCI Asset Management.

Ketegangan regional masih berlangsung

Di tengah proses diplomasi, ketegangan regional masih berlanjut. Israel dilaporkan melakukan serangan udara di Beirut yang menewaskan seorang komandan Hezbollah, menandai serangan pertama ke ibu kota Lebanon sejak gencatan senjata sebelumnya.

Konflik antara Israel dan kelompok yang didukung Iran, termasuk Hezbollah, menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi dinamika negosiasi AS–Iran.

Masih banyak isu belum terselesaikan

Meskipun ada kemajuan awal, sejumlah isu utama masih belum masuk dalam kerangka kesepakatan, termasuk program nuklir Iran, pembatasan rudal balistik, serta dukungan Tehran terhadap kelompok milisi di Timur Tengah.

Selain itu, status cadangan uranium Iran yang mendekati tingkat senjata juga belum dibahas dalam proposal sementara tersebut.