PRESSCORNER.ID – WASHINGTON. Jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan tunjangan pengangguran tercatat naik lebih rendah dari perkiraan pada pekan lalu, seiring kondisi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masih relatif rendah dan menjaga stabilitas pasar tenaga kerja.
Melansir Reuters Kamis (7/5/2026), Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran negara bagian naik 10.000 menjadi 200.000 secara penyesuaian musiman untuk pekan yang berakhir pada 2 Mei.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan 205.000 klaim.
Kenaikan ini juga hanya sebagian mengimbangi penurunan pada pekan sebelumnya, menandakan pasar tenaga kerja masih cukup solid.
Data pemerintah sebelumnya menunjukkan terdapat 0,95 lowongan kerja untuk setiap pengangguran pada Maret, sedikit meningkat dari 0,91 pada Februari. Kondisi ini mencerminkan pasar tenaga kerja yang masih stabil.
Meski sejumlah perusahaan teknologi besar melakukan PHK seiring adopsi kecerdasan buatan (AI), angka klaim pengangguran tetap berada di bawah 230.000 sepanjang tahun ini.
Ekonom menduga sebagian pekerja yang terkena PHK masih ditopang paket pesangon yang cukup besar.
Laporan dari perusahaan outplacement global Challenger, Gray and Christmas juga mencatat perusahaan di AS mengumumkan 83.387 pemutusan kerja pada April, naik 38% dibanding Maret, namun turun 21% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Secara kumulatif, sepanjang tahun ini perusahaan AS telah mengumumkan 300.749 PHK, turun 50% dibanding periode yang sama tahun 2025.
Sektor teknologi menjadi penyumbang terbesar PHK, dengan alasan utama terkait penerapan AI.
Di sisi lain, belum terlihat dampak signifikan dari potensi lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik yang melibatkan AS dan Israel dengan Iran terhadap pasar tenaga kerja.
Namun, ekonom tetap mewaspadai risiko tekanan ke depan, terutama jika gangguan jalur perdagangan di Selat Hormuz mendorong kenaikan harga komoditas seperti pupuk, petrokimia, dan aluminium.
Sementara itu, jumlah penerima tunjangan pengangguran lanjutan—yang menjadi indikator aktivitas perekrutan—turun 10.000 menjadi 1,766 juta pada pekan yang berakhir 25 April.
Data klaim ini tidak secara langsung memengaruhi laporan ketenagakerjaan AS yang sangat diperhatikan pasar untuk April, yang akan dirilis pada Jumat.
Ekonom memperkirakan, nonfarm payrolls AS bertambah 62.000 pekerjaan pada April, melambat dari 178.000 pada Maret.
Perlambatan ini mencerminkan berkurangnya dampak musim dan kembalinya pekerja sektor kesehatan yang sebelumnya mogok.
Tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4,3% pada April, dengan kemungkinan turun tipis ke 4,2%. Federal Reserve Chicago bahkan memperkirakan tingkat pengangguran berada di 4,23%, yang dapat dibulatkan menjadi 4,2%.
Survei Conference Board juga menunjukkan, persepsi konsumen terhadap pasar kerja membaik, dengan porsi responden yang menilai pekerjaan “sulit didapat” menurun, sementara yang menilai pekerjaan “tersedia melimpah” relatif stabil.











