BeritaBisnis

Pertumbuhan Ekonomi 7,5% pada 2027 Sulit Tercapai Jika Pendapatan Masyarakat Tak Naik

Avatar photo
9
×

Pertumbuhan Ekonomi 7,5% pada 2027 Sulit Tercapai Jika Pendapatan Masyarakat Tak Naik

Sebarkan artikel ini
Pertumbuhan Ekonomi 7,5% pada 2027 Sulit Tercapai Jika Pendapatan Masyarakat Tak Naik


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 7,5% pada 2027 dinilai masih sangat ambisius.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai pemerintah perlu mendorong kenaikan pendapatan riil masyarakat, memperkuat industrialisasi, serta meningkatkan efisiensi investasi agar target tersebut dapat tercapai secara berkelanjutan.

Menurut Yusuf, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,9% hingga 7,5% yang tercantum dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027 memang dibuat dengan rentang cukup lebar. Hal itu mencerminkan adanya perbedaan antara skenario realistis dan optimistis yang diproyeksikan pemerintah.

“Di sisi bawah, pertumbuhan 5,9% masih cukup masuk akal kalau momentum ekonomi 2026 bertahan dan tidak ada guncangan global besar. Tetapi target 7,5% jelas sangat ambisius,” ujar Yusuf kepada Kontan, Kamis (7/5/2026).

Yusuf menilai Indonesia telah hampir dua dekade berada dalam pola pertumbuhan ekonomi di kisaran 5%. Karena itu, untuk mendorong pertumbuhan hingga di atas 7%, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah seperti saat ini.

“Harus ada perubahan struktural di sumber pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Ia menjelaskan konsumsi rumah tangga memang masih menjadi penopang utama perekonomian nasional. Namun, konsumsi tersebut dinilai masih sangat bergantung pada faktor musiman, seperti momentum Lebaran, bantuan sosial, tunjangan hari raya (THR), serta berbagai stimulus pemerintah.

“Itu bisa menjaga pertumbuhan jangka pendek, tetapi sulit menjadi fondasi pertumbuhan tinggi yang konsisten,” ujarnya.

Sektor Manufaktur Dinilai Masih Lemah

Di sisi lain, Yusuf menilai sektor manufaktur Indonesia masih menghadapi tekanan. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang masih berada di zona kontraksi, serta kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) yang terus menurun dibandingkan dua dekade lalu.

Padahal, menurutnya, negara-negara yang mampu mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 7% dalam jangka panjang umumnya ditopang oleh industrialisasi yang kuat, ekspor manufaktur yang solid, dan produktivitas yang terus meningkat.

Karena itu, Yusuf menilai target pertumbuhan konsumsi rumah tangga hingga 7,5% juga cukup berat untuk dicapai.

“Untuk mencapainya, masyarakat harus mengalami kenaikan pendapatan riil yang signifikan, lapangan kerja formal harus membaik, dan inflasi tetap terkendali,” katanya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tekanan nilai tukar rupiah serta tingginya harga energi global masih menjadi tantangan. Kondisi tersebut berpotensi memicu imported inflation atau inflasi impor yang dapat menekan daya beli masyarakat.

Target Investasi Rp 8.841 Triliun Dinilai Ambisius

Selain konsumsi rumah tangga, Yusuf juga menyoroti target kebutuhan investasi sebesar Rp 8.841 triliun dalam RKP 2027 yang dinilai sangat ambisius. Menurutnya, Indonesia membutuhkan lonjakan investasi sekitar 30% hanya dalam waktu dua tahun.

“Persoalannya bukan hanya jumlah investasi, melainkan kualitas dan efisiensinya,” ujar Yusuf.

Ia menilai tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang masih berada di kisaran 6-7 menunjukkan bahwa investasi besar belum tentu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang efisien.

“Banyak proyek yang biaya logistiknya mahal, birokrasinya panjang, atau produktivitasnya rendah. Jadi meskipun investasi naik besar, pertumbuhan ekonomi belum tentu ikut melonjak setinggi target pemerintah,” jelasnya.

Reformasi Struktural Jadi Kunci

Yusuf menegaskan reformasi struktural tetap menjadi faktor utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menyebut setidaknya ada empat hal yang perlu diperbaiki pemerintah.

Pertama, memperbaiki iklim investasi dan kepastian regulasi. Kedua, memperkuat sektor manufaktur nasional. Ketiga, meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta produktivitas tenaga kerja. Keempat, menurunkan biaya logistik agar efisiensi investasi meningkat.

Menurut Yusuf, Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah katalis pertumbuhan ekonomi, mulai dari hilirisasi mineral, investasi kendaraan listrik dan baterai, pembangunan data center, hingga proyek Ibu Kota Nusantara (IKN).

Namun, seluruh potensi tersebut tetap membutuhkan konsistensi kebijakan dan peningkatan efisiensi investasi agar mampu memberikan dampak maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Selama kepastian kebijakan masih sering berubah dan efisiensi investasi belum membaik, target pertumbuhan tinggi akan sulit tercapai secara berkelanjutan,” katanya.

Yusuf memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,9% hingga 6% masih realistis dicapai apabila didukung kerja keras pemerintah dan kondisi global yang tetap kondusif.

“Tetapi untuk mencapai 7% sampai 7,5%, Indonesia membutuhkan lompatan produktivitas dan industrialisasi yang jauh lebih besar dibanding yang kita lihat sekarang,” pungkas Yusuf.