PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Amerika Serikat dan Iran dilaporkan semakin mendekati kesepakatan untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk. Sumber dari Pakistan yang berperan sebagai mediator menyebutkan bahwa kedua pihak tengah merampungkan memorandum satu halaman yang berisi poin-poin utama penghentian perang.
Sumber tersebut mengonfirmasi laporan media AS, Axios, yang sebelumnya mengungkap rencana kesepakatan tersebut dengan mengutip sejumlah pejabat dan sumber yang mengetahui jalannya negosiasi.
“Kami akan segera menuntaskan ini. Kami semakin dekat,” ujar sumber dari Pakistan. Sebelumnya, Pakistan menjadi tuan rumah satu-satunya pembicaraan damai bulan lalu dan terus berperan sebagai mediator dengan menyampaikan proposal antar kedua pihak.
Harga Minyak Turun Tajam
Kabar potensi kesepakatan ini langsung berdampak pada pasar global. Harga minyak mentah acuan dunia, Brent, tercatat anjlok lebih dari 8% hingga mendekati US$100 per barel. Optimisme berakhirnya konflik yang selama ini mengganggu pasokan energi turut mendorong penguatan pasar saham global serta penurunan imbal hasil obligasi.
Sejumlah pihak, termasuk Gedung Putih dan pejabat Iran, belum memberikan komentar resmi. Namun, media CNBC melaporkan bahwa Kementerian Luar Negeri Iran tengah mengevaluasi proposal 14 poin yang diajukan oleh AS.
Laporan Axios juga menyebut bahwa pemerintahan Donald Trump meyakini kesepakatan sudah semakin dekat, hanya beberapa jam setelah Trump menghentikan sementara misi angkatan laut untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Isi Kesepakatan: Nuklir, Sanksi, dan Jalur Energi
Dalam laporan tersebut, kesepakatan mencakup sejumlah poin penting, antara lain:
-
Iran menyetujui moratorium pengayaan nuklir
-
AS akan mencabut sanksi ekonomi terhadap Iran
-
Pembebasan miliaran dolar dana Iran yang dibekukan
-
Pelonggaran pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz
AS juga menunggu respons Iran terhadap sejumlah poin krusial dalam waktu 48 jam.
Negosiasi Intensif 14 Poin
Memorandum kesepahaman berisi 14 poin tersebut dinegosiasikan oleh utusan AS, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner, dengan pejabat Iran, baik secara langsung maupun melalui mediator.
Jika disepakati, dokumen tersebut akan menandai berakhirnya konflik dan membuka periode negosiasi lanjutan selama 30 hari untuk menyusun perjanjian lebih rinci terkait pembukaan jalur pelayaran, pembatasan program nuklir Iran, serta pencabutan sanksi AS.
Selama periode tersebut, pembatasan Iran terhadap pelayaran dan blokade AS akan dilonggarkan secara bertahap. Namun, jika negosiasi gagal, AS disebut dapat kembali memberlakukan blokade atau melanjutkan aksi militer.
Misi Militer AS Ditunda
Sebelumnya, Trump menghentikan sementara misi militer bertajuk “Project Freedom” yang bertujuan mengawal kapal melalui Selat Hormuz. Misi tersebut dinilai belum berhasil memulihkan lalu lintas pelayaran, bahkan memicu serangan baru dari Iran terhadap kapal dan target di negara tetangga.
Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menyebut penundaan dilakukan karena adanya “kemajuan besar” dalam negosiasi.
Selat Hormuz Masih Tertutup
Sejak konflik pecah pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi hampir seluruh kapal selain miliknya. Sebagai respons, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran pada April.
Selama konflik berlangsung, serangan drone dan rudal Iran dilaporkan menghantam sejumlah kapal, termasuk kapal kargo Korea Selatan. Selain itu, Iran juga menyerang target di Uni Emirat Arab, termasuk pelabuhan minyak utama di luar Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi jalur alternatif ekspor energi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa Teheran masih menginginkan “kesepakatan yang adil dan komprehensif”, meski belum menanggapi langsung pernyataan terbaru Trump.











