BeritaInternasional

Laba Harley-Davidson Tertekan, Strategi Baru Fokus Motor Entry-Level

Avatar photo
11
×

Laba Harley-Davidson Tertekan, Strategi Baru Fokus Motor Entry-Level

Sebarkan artikel ini
Laba Harley-Davidson Tertekan, Strategi Baru Fokus Motor Entry-Level


PRESSCORNER.ID – Harley-Davidson menyiapkan strategi baru untuk memulihkan kinerja bisnis di tengah tekanan permintaan dan biaya.

Melansir Reuters, produsen motor asal Amerika Serikat (AS) ini akan fokus pada pengembangan model berharga terjangkau serta optimalisasi jaringan dealer.

Di bawah kepemimpinan CEO baru, Artie Starrs, perusahaan meluncurkan strategi bertajuk Back to the Bricks.

Program ini menargetkan laba inti lebih dari US$ 350 juta dari bisnis sepeda motor pada 2027, serta efisiensi biaya di atas US$ 150 juta.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, Harley-Davidson akan memperkenalkan model entry-level berkapasitas 440cc, Sprint, dengan kisaran harga sekitar US$ 6.000.

Perusahaan juga berencana menghidupkan kembali model ikonik Sportster serta memperluas opsi kustomisasi melalui konsep blank canvas.

“Kami melihat Sprint berada pada titik harga yang sesuai dengan kebutuhan pengendara muda, baik dari sisi ukuran, fitur, maupun kemudahan berkendara,” ujar Starrs.

Selain produk, perusahaan juga akan mengoptimalkan jaringan dealer untuk meningkatkan profitabilitas dan menyelaraskan pasokan dengan permintaan pasar.

Langkah ini diambil di tengah tekanan terhadap daya beli konsumen akibat inflasi, tingginya suku bunga, serta kenaikan harga bahan bakar yang menekan permintaan barang bernilai besar seperti sepeda motor.

Dari sisi kinerja, Harley-Davidson mencatat laba bersih kuartal I-2026 sebesar US$ 25 juta atau 22 sen per saham, turun signifikan dari US$ 133 juta atau US$ 1,07 per saham pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan perusahaan juga turun 12% secara tahunan menjadi sekitar US$ 1,2 miliar.

Selain itu, tekanan tarif masih menjadi beban bagi perusahaan.

Harley-Davidson memperkirakan biaya terkait tarif pada 2026 berada di kisaran US$ 75 juta hingga US$ 90 juta, lebih rendah dari estimasi sebelumnya yang mencapai US$ 105 juta.

Pada kuartal I-2026 saja, biaya terkait tarif tercatat sebesar US$ 45 juta.

Meski sebagian besar produksi dilakukan di dalam negeri, perusahaan tetap terdampak tarif impor komponen, termasuk semikonduktor yang digunakan dalam motor modern. Sekitar 75% komponen masih dipasok dari pemasok di Amerika Serikat.

Manajemen menilai tekanan tarif akan mulai mereda dalam beberapa kuartal ke depan, meski tetap menjadi salah satu faktor risiko bagi kinerja perusahaan.