PRESSCORNER.ID – Inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) kembali meningkat pada Agustus 2026. Kenaikan harga bensin menjadi salah satu pendorong utama, memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve atau The Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada pekan depan.
Melansir Reuters berdasarkan data Bureau of Labor Statistics (BLS), indeks harga konsumen (CPI) AS naik 0,4% pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya.
Angka tersebut meningkat dari kenaikan 0,1% pada Juli dan sesuai dengan konsensus ekonom yang disurvei Reuters.
Secara tahunan, inflasi AS tercatat 3,4% pada Agustus, sama seperti pada Juli dan sesuai dengan perkiraan ekonom.
Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen harga makanan dan energi yang bergejolak meningkat 0,3% secara bulanan pada Agustus, setelah naik 0,2% pada Juli.
Secara tahunan, inflasi inti mencapai 2,4%, melambat dari 2,5% pada Juli.
Meski The Fed menggunakan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) sebagai acuan utama target inflasi 2%, data CPI terbaru menjadi perhatian pasar menjelang pertemuan kebijakan moneter pada 15-16 September.
Data inflasi tersebut juga mengikuti laporan Producer Price Index (PPI) yang menunjukkan kenaikan harga produsen pada Agustus.
Sejumlah komponen yang berkontribusi terhadap perhitungan inflasi PCE juga mencatat kenaikan kuat.
Kombinasi data PPI dan laporan ketenagakerjaan AS yang solid pada Agustus membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali menguat.
Harga energi jadi perhatian
Tekanan inflasi juga berpotensi bertahan akibat kenaikan harga energi. Harga minyak dunia kembali menembus US$100 per barel pada Kamis (10/9), sementara harga diesel mencapai rekor tertinggi.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi tidak hanya bertahan, tetapi juga dapat meluas ke berbagai sektor ekonomi.
Sejumlah ekonom juga memperkirakan tarif impor menjadi faktor lain yang menjaga tekanan harga di AS tetap tinggi, terutama setelah kebijakan tarif terhadap Kanada, salah satu mitra dagang utama AS.
Kenaikan harga barang kebutuhan, khususnya bensin dan makanan, juga menjadi persoalan politik bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Tekanan harga yang tinggi berpotensi memengaruhi tingkat kepuasan publik terhadap Trump menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm election pada November.
Pasar mulai bertaruh The Fed naikkan bunga
Sebelum data CPI dirilis, pasar keuangan memperkirakan peluang sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan The Fed pada 15-16 September, berdasarkan CME FedWatch.
Saat ini, suku bunga acuan The Fed berada di kisaran 3,50%-3,75%.
Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut sempat melemah setelah Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan ia cenderung mendukung keputusan mempertahankan suku bunga apabila data menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda.
Namun, data inflasi dan harga produsen terbaru kembali mengubah ekspektasi pasar.
Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya mengatakan bank sentral masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan jika para pembuat kebijakan belum memperoleh keyakinan bahwa inflasi bergerak menuju target 2%.
Di sisi lain, Trump terus mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga. Tekanan politik tersebut dinilai sejumlah ekonom turut berkontribusi terhadap kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor panjang.
Sebagian pelaku pasar bahkan memperkirakan The Fed dapat memilih memperketat kebijakan moneter pada pekan depan untuk menegaskan independensi bank sentral di tengah tekanan politik tersebut.











