PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Bank DBS Indonesia melihat peluang investasi di Indonesia masih terbuka lebar di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Perubahan rantai pasok global hingga tren China+1 dan Taiwan+1 dinilai dapat menjadi katalis bagi masuknya investasi asing ke Indonesia.
Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao menyebut, perkembangan ekonomi global yang semakin multipolar membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru di Asia.
“Keunggulan Indonesia ke depan tidak hanya terletak pada sumber daya alam dan ukuran pasar, tetapi juga pada kemampuannya menarik investasi berbasis teknologi, memperkuat rantai nilai domestik, mengembangkan ekonomi digital, serta menjaga stabilitas kebijakan dan makroekonomi,” ujar Radhika , Kamis (10/9/2026).
Menurut DBS Group Research, Asia tetap menjadi magnet utama investasi asing global pada 2025. Arus penanaman modal asing (PMA) ke Asia Timur tercatat sekitar US$ 245 miliar, sedangkan Asia Tenggara sebesar US$ 250 miliar atau meningkat dari sekitar US$ 225 miliar pada 2024.
Kondisi tersebut turut membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan investasi, terutama seiring perubahan strategi rantai pasok global.
DBS menyebut, tren China+1 dan Taiwan+1 berpotensi mendorong Indonesia menjadi salah satu pusat manufaktur kendaraan listrik (EV) sekaligus tujuan investasi di Asia Tenggara.
Selain itu, agenda hilirisasi dinilai dapat membuka peluang investasi di sektor energi, infrastruktur dan manufaktur strategis. Indonesia juga memiliki potensi untuk meningkatkan perannya dalam ekosistem teknologi, elektronik, semikonduktor dan kendaraan listrik.
Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Riyatno mengatakan, realisasi investasi di Indonesia masih menunjukkan tren positif.
“Realisasi investasi di Indonesia tetap menunjukkan tren positif yang dibuktikan dengan capaian semester pertama 2026 hampir 50% dari target pertumbuhan 7,2% YoY,” kata Riyatno.
Riyatno menambahkan, pemerintah terus berupaya memperkuat iklim investasi melalui layanan investasi dari hulu hingga hilir, termasuk reformasi regulasi dan penyederhanaan perizinan.
Ia mengungkapkan, pemerintah juga mengembangkan sistem Online Single Submission (OSS) Versi 2 yang didukung teknologi seperti artificial intelligence (AI) dan blockchain untuk meningkatkan integrasi serta efisiensi proses investasi.
Di sisi lain, DBS menilai perusahaan multinasional perlu menyesuaikan strategi bisnis menghadapi perubahan kondisi global menuju 2027. Pilihan strategi dapat berupa memperluas (expand), memperdalam eksposur (deepen), atau meninjau kembali eksposur bisnis (reassess).
Pilihan tersebut akan bergantung pada sektor usaha, strategi perusahaan dan tingkat toleransi risiko. Faktor pembiayaan, nilai tukar, suku bunga, regulasi, hingga kondisi ekonomi lokal juga menjadi pertimbangan perusahaan dalam menentukan arah ekspansi.
Head of Large & Multinational Corporates, Institutional Banking Group, Bank DBS Indonesia Natalia Ratulangi bilang perusahaan multinasional saat ini membutuhkan dukungan perbankan yang lebih luas, tak hanya dalam bentuk pembiayaan.
“Kebutuhan perusahaan multinasional semakin beragam, ada kebutuhan untuk mengatasi dampak gejolak suku bunga, nilai tukar, kebijakan regulasi dan sentimen lokal ekonomi,” ujar Natalia.
Untuk itu, DBS Indonesia menyediakan sejumlah solusi perbankan bagi perusahaan multinasional, mulai dari pembiayaan modal kerja, pembiayaan belanja modal (capex financing), sustainability-linked loan, produk trade dan treasury, manajemen kas hingga solusi perbankan yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah.
Natalia mengatakan, konektivitas DBS di Asia, platform digital banking dan keahlian di berbagai sektor menjadi bagian dari upaya perseroan mendukung kebutuhan perusahaan multinasional dalam menghadapi dinamika bisnis global.
DBS menyebut, penguatan infrastruktur fisik seperti energi, transportasi dan logistik, serta infrastruktur nonfisik seperti regulasi, kualitas sumber daya manusia dan kemudahan berusaha akan menjadi faktor penting untuk mempertahankan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi hingga 2027.











