BeritaInternasional

Popularitas Trump Merosot, Partai Republik Terancam Kehilangan Mayoritas Kongres AS

Avatar photo
9
×

Popularitas Trump Merosot, Partai Republik Terancam Kehilangan Mayoritas Kongres AS

Sebarkan artikel ini
Popularitas Trump Merosot, Partai Republik Terancam Kehilangan Mayoritas Kongres AS


PRESSCORNER.ID – Peluang Partai Republik mempertahankan mayoritas tipis di Kongres Amerika Serikat (AS) menghadapi tekanan menjelang pemilu paruh waktu (midterm elections) yang akan digelar pada 3 November 2026.

Melansir Reuters Senin (7/9/2026), rendahnya tingkat popularitas Presiden Donald Trump menjadi salah satu faktor utama yang dapat menggerus dukungan terhadap Partai Republik.

Kampanye pemilu paruh waktu memasuki fase akhir, dengan waktu sekitar dua bulan sebelum pemungutan suara.

Para pakar pemilu mengatakan pemilu paruh waktu pada dasarnya menjadi referendum terhadap kinerja presiden yang sedang menjabat. Kondisi tersebut semakin terlihat pada era Trump, yang selama hampir satu dekade menjadi figur dominan dalam politik AS.

Jika Partai Demokrat berhasil merebut mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives), partai tersebut berpeluang membuka berbagai penyelidikan terhadap pemerintahan Trump sekaligus memaksa Gedung Putih berkompromi dalam pembahasan legislasi.

Pimpinan Partai Demokrat bahkan telah berjanji membuka penyelidikan terhadap sejumlah kebijakan pemerintahan Trump yang mereka nilai bermasalah, termasuk dugaan korupsi.

Persaingan untuk menguasai Senat masih dinilai ketat. Namun, kemenangan Demokrat di Senat akan memberikan kewenangan penting untuk menghambat sejumlah nominasi Trump, termasuk calon hakim Mahkamah Agung jika terjadi kekosongan di lembaga tersebut.

Popularitas Trump Jadi Beban

Partai Demokrat memang menghadapi persoalan internal, terutama perbedaan pandangan antara kelompok moderat dan sayap kiri.

Namun, tingkat ketidakpopuleran Trump kini menjadi salah satu hambatan terbesar bagi Partai Republik.

Berdasarkan survei Reuters/Ipsos terbaru, tingkat persetujuan terhadap Trump berada di titik terendah sepanjang masa. Mayoritas responden juga tidak puas dengan penanganan perang di Iran dan kondisi ekonomi AS.

Tingkat ketidaksetujuan bersih terhadap Trump hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2018. Pada pemilu paruh waktu 2018, Partai Demokrat berhasil merebut 40 kursi di House.

Antusiasme pemilih Demokrat juga tercatat lebih tinggi dibandingkan pemilih Republik. Hal tersebut terlihat dari tingkat partisipasi pemilih Demokrat yang kuat dalam sejumlah pemilu khusus dan pemilihan pendahuluan.

Di kalangan pemilih terdaftar, kandidat Demokrat juga unggul sekitar lima poin persentase dibandingkan kandidat Republik dalam preferensi pemilih.

“Jika Anda ingin menyuarakan ketidakpuasan terhadap presiden, satu-satunya cara yang bisa dilakukan dalam pemilu paruh waktu adalah memilih melawan partainya,” kata Jessica Taylor, analis Senat di Cook Political Report.

Secara historis, partai yang menguasai Gedung Putih juga cenderung kehilangan kursi di House dalam pemilu paruh waktu. Sejak 1938, partai presiden hanya berhasil menghindari kehilangan kursi House dalam dua pemilu paruh waktu.

Demokrat Masih Hadapi Tantangan

Meski memiliki sejumlah keunggulan, Demokrat tidak sepenuhnya berada dalam posisi aman.

Sejumlah kandidat progresif, termasuk kelompok sosialis demokrat, berhasil mengalahkan kandidat moderat yang didukung elite partai dalam berbagai kontestasi internal.

Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kepemimpinan, strategi komunikasi dan persatuan Demokrat.

Partai Republik juga masih memiliki sejumlah keunggulan struktural.

Di House, Partai Republik saat ini menguasai 218 kursi berbanding 214 kursi Demokrat. Partai Republik juga berpotensi memperoleh hingga 10 kursi tambahan akibat pemetaan ulang distrik setelah memenangkan pertarungan redistricting di tengah periode pemerintahan.

Sebanyak 435 kursi House dan sekitar sepertiga dari 100 kursi Senat akan diperebutkan dalam pemilu 3 November mendatang.

Perebutan Kursi Senat

Peta persaingan Senat dinilai lebih sulit bagi Demokrat. Bahkan jika Demokrat mampu memenangkan persaingan ketat di Georgia, Maine, Michigan dan North Carolina, mereka masih harus merebut setidaknya dua dari empat negara bagian yang dimenangkan Trump dengan selisih dua digit pada 2024, yakni Alaska, Iowa, Ohio dan Texas.

Pada Minggu (6/9/2026), seorang bersenjata menyerang kandidat gubernur Ohio dari Partai Demokrat, Amy Acton, di sebuah pameran dekat Youngstown. Serangan tersebut gagal melukai Acton.

Dari sisi pendanaan, kandidat Demokrat secara nasional berhasil menggalang dana lebih besar dibandingkan lawan mereka dari Partai Republik.

Namun, komite nasional Partai Republik dan super PAC yang berafiliasi dengan Partai Republik memiliki dana jauh lebih besar dibandingkan kelompok Demokrat.

Super PAC milik Trump sendiri dilaporkan memiliki dana sekitar US$ 400 juta.

Demokrat diperkirakan akan unggul dalam perolehan suara populer nasional. Namun, sistem pemilu dan peta distrik membuat perolehan suara nasional tidak secara otomatis menjamin mayoritas kursi di Kongres.

Ekonomi Jadi Isu Utama

Persoalan biaya hidup (affordability) dan perang menjadi isu utama dalam kampanye. Sejumlah negara bagian dengan persaingan ketat juga mulai merasakan dampak kebijakan Trump.

Di Iowa, petani menghadapi kenaikan biaya energi serta dampak tarif Trump. Sementara peternak sapi di Texas kecewa setelah Trump mencabut tarif impor daging sapi asing.

Michigan dan Maine juga berpotensi terdampak meningkatnya perang dagang Trump dengan Kanada.

Partai Republik akan menggelar konvensi paruh waktu pekan ini. Acara tersebut diharapkan dapat meningkatkan kembali antusiasme basis pemilih sekaligus mengingatkan pemilih terhadap pemotongan pajak dan sejumlah capaian pemerintahan Trump.

Namun, dominasi Trump dalam acara tersebut juga berisiko menjadi bumerang karena dapat semakin mengaitkan kandidat Partai Republik yang rentan dengan presiden.

Selain biaya hidup dan perang, isu layanan kesehatan, perang Israel di Gaza serta perdebatan mengenai pembangunan pusat data juga diperkirakan menjadi materi kampanye.

Dengan sekitar delapan pekan tersisa sebelum hari pemungutan suara, peta politik masih dapat berubah. Trump dikenal mampu mengubah arah perdebatan politik dalam waktu singkat.

Namun, sejumlah analis menilai waktu Partai Republik untuk mengubah persepsi negatif pemilih terhadap ekonomi semakin terbatas.

“Bisakah Partai Republik meningkatkan antusiasme mereka? Sisi lainnya adalah tidak ada pemulihan, dan penurunan tingkat persetujuan Trump bersifat permanen. Itulah pertanyaan besar dalam pemilu ini,” kata Kyle Kondik, pakar pemilu dari Center for Politics di University of Virginia.