PRESSCORNER.ID – Harga tembaga bergerak menuju level tertinggi sepanjang masa pada Senin (7/9/2026). Penguatan harga didorong kekhawatiran pasokan yang semakin ketat di luar Amerika Serikat (AS), ditambah pelemahan dolar AS yang meningkatkan daya tarik komoditas berbasis dolar.
Melansir Reuters, harga tembaga acuan di London Metal Exchange (LME) naik 0,2% menjadi US$14.443 per ton dalam perdagangan resmi. Harga sempat menyentuh US$14.467 per ton, level tertinggi sejak rekor US$14.527,50 per ton yang tercatat pada Januari lalu.
Perdagangan diperkirakan berlangsung lebih sepi karena pasar AS libur. Kondisi tersebut membuat perhatian pelaku pasar tertuju pada pergerakan tembaga dan seng.
Salah satu perhatian utama pasar adalah ketidakseimbangan distribusi pasokan tembaga global.
Pedagang dan produsen telah mengirimkan tembaga dalam jumlah besar ke AS sejak Presiden Donald Trump mulai mengisyaratkan kemungkinan pengenaan tarif impor pada Februari 2025.
Akibatnya, persediaan tembaga di bursa Comex AS telah mencapai rekor 766.795 short ton atau sekitar 695.624 ton metrik.
“Sulit untuk mengetahui apa yang akan terjadi terkait tarif, tetapi semakin lama ketidakpastian berlangsung, semakin lama pula harga akan tetap tinggi karena material terus mengalir ke AS,” kata Albert Mackenzie, analis Benchmark Mineral Intelligence.
Sementara itu, premi atau kondisi backwardation pada kontrak tembaga jangka pendek dibandingkan kontrak berjangka yang lebih panjang telah menarik sebagian pasokan kembali ke bursa LME.
Namun, data cancelled warrants atau tembaga yang telah dialokasikan untuk pengiriman menunjukkan lebih dari 121.000 ton tembaga berpotensi keluar dari sistem LME dalam beberapa pekan mendatang.
Indikasi ketatnya pasokan juga terlihat dari selisih harga kontrak tunai dan kontrak tiga bulan LME.
Premi tembaga tunai sempat menembus US$430 per ton pada pertengahan Agustus, tertinggi sejak 2021. Meski telah turun, premi tersebut masih berada di sekitar US$74 per ton pada Jumat (4/9/2026).
Persediaan China Merosot
China juga menghadapi kondisi pasokan tembaga yang semakin ketat. Persediaan tembaga di gudang yang dipantau Shanghai Futures Exchange (SHFE) berada di sekitar 63.000 ton.
Jumlah tersebut telah merosot 85% sejak pertengahan Maret dan menjadi level terendah sejak Januari 2024.
Harga tembaga di SHFE juga berada dalam kondisi backwardation. Kondisi ini mengindikasikan pelaku industri di China, sebagai konsumen tembaga terbesar dunia, mulai mengkhawatirkan ketersediaan pasokan dalam jangka pendek.
Selain tembaga, harga sejumlah logam dasar lainnya juga menguat.
Harga seng naik 0,7% menjadi US$3.973 per ton setelah sebelumnya menyentuh US$3.988,50 per ton. Pada awal September, harga seng sempat mencapai US$3.990 per ton, level tertinggi sejak Mei 2022.
Aluminium naik 0,3% menjadi US$3.307 per ton, sementara timbal menguat 0,6% menjadi US$1.913,50 per ton.
Harga timah naik 0,7% menjadi US$55.250 per ton. Sebaliknya, nikel turun 0,6% menjadi US$16.750 per ton.
Pelemahan dolar AS turut menopang harga logam dasar. Dolar yang lebih lemah membuat komoditas yang dihargai dalam dolar AS menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Dengan persediaan di sejumlah pusat perdagangan yang menipis dan arus pasokan yang masih terdistorsi akibat ketidakpastian tarif AS, pasar tembaga kini semakin memperhatikan risiko kekurangan pasokan di luar AS.











