PRESSCORNER.ID – WASHINGTON. Pertumbuhan lapangan kerja di Amerika Serikat (AS) diperkirakan kembali meningkat pada Agustus 2026 setelah tertekan oleh penurunan sementara pekerjaan di sektor pendidikan pemerintah daerah.
Namun, pemulihan pasar tenaga kerja AS diperkirakan masih terbatas akibat berakhirnya status perlindungan sementara atau Temporary Protected Status (TPS) bagi para imigran Haiti.
Departemen Tenaga Kerja AS dijadwalkan merilis laporan ketenagakerjaan pada Jumat (4/9/2026). Data tersebut diperkirakan menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih berada dalam kondisi yang oleh para ekonom digambarkan sebagai “perekrutan lambat, pemutusan kerja lambat” (slow hire, slow fire).
Tingkat pengangguran AS diperkirakan bertahan di level 4,1% pada Agustus.
Momentum pasar tenaga kerja AS memang telah melambat setelah sempat menguat pada musim semi. Perlambatan tersebut antara lain dikaitkan dengan gejolak harga minyak dan gangguan rantai pasok akibat perang yang dipimpin AS dengan Iran.
Selain itu, pertumbuhan lapangan kerja sebelumnya turut terhambat oleh kebijakan tarif impor besar-besaran yang diberlakukan Presiden Donald Trump pada 2025.
“Pelaku usaha merasa beberapa masalah dari 2025 sudah terlewati, kemudian tiba-tiba muncul peristiwa angsa hitam lainnya yang menghadirkan serangkaian ketidakpastian baru,” kata Brian Bethune, profesor ekonomi di Boston College.
“Kami melihat masalah signifikan pada rantai pasok, harga minyak dan bahan bakar meningkat, dan situasi tersebut belum berubah. Itulah sebabnya angka ketenagakerjaan turun dari apa yang kami lihat dalam beberapa bulan pertama,” ujarnya.
Payroll AS Diproyeksi Bertambah 56.000
Berdasarkan survei Reuters terhadap para ekonom, jumlah pekerja nonpertanian (nonfarm payrolls) AS diperkirakan bertambah 56.000 pada Agustus 2026. Proyeksi tersebut membaik dibandingkan Juli ketika payrolls justru turun 23.000.
Perkiraan para ekonom cukup beragam, mulai dari penurunan tambahan sebanyak 25.000 pekerjaan hingga peningkatan sebesar 121.000 pekerjaan.
Secara historis, data payrolls Agustus cenderung berada di bawah ekspektasi. Para ekonom menilai kondisi tersebut berkaitan dengan pola musiman selama musim panas.
Salah satu faktor yang diharapkan menopang pertumbuhan lapangan kerja pada Agustus adalah pemulihan pekerjaan di sektor pendidikan pemerintah daerah.
Pada Juli, pekerjaan di sektor pendidikan pemerintah daerah turun 49.600. Karena itu, pembalikan tren tersebut diperkirakan memberikan dorongan terhadap angka payrolls Agustus.
Pemulihan juga diperkirakan terjadi pada sektor rekreasi dan perhotelan (leisure and hospitality), setelah sektor tersebut kehilangan lapangan kerja selama dua bulan berturut-turut.
Namun, kenaikan tersebut berpotensi terkompensasi oleh dampak berakhirnya TPS bagi ratusan ribu imigran Haiti yang berkaitan dengan izin kerja mereka.
Berakhirnya TPS Imigran Haiti Jadi Beban Pasar Kerja
Michael Gapen, kepala ekonom Morgan Stanley, memperkirakan berakhirnya TPS akan mengurangi pertumbuhan payrolls AS.
“Kami memperkirakan pencabutan Temporary Protected Status bagi imigran Haiti yang tidak memiliki status resmi akan mengurangi payrolls sekitar 15.000 pekerjaan,” kata Gapen.
“Dampaknya bisa jauh lebih besar. Warga Haiti yang terdampak TPS diperkirakan mencakup sekitar 160.000 pekerja dalam payrolls nasional,” lanjutnya.
Sejumlah ekonom menilai tekanan akibat berakhirnya TPS tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara.
Dampaknya diperkirakan paling terlihat pada sektor jasa yang padat karya, terutama layanan kesehatan dan pekerjaan yang berkaitan dengan perawatan. Sebagian imigran yang kehilangan status TPS juga berpotensi berpindah ke kategori visa lainnya.
Veronica Clark, ekonom Citigroup, mengatakan pelemahan payrolls tidak bisa serta-merta dikaitkan hanya dengan berakhirnya TPS.
“Jika lapangan kerja payrolls pada Agustus sedikit lebih lemah dari perkiraan kami, kami tidak serta-merta menganggap pelemahan tersebut hanya sebagai akibat berakhirnya TPS, karena data lain seperti rencana perekrutan juga menunjukkan kondisi yang lemah,” ujar Clark.
Kebijakan Imigrasi Mempersempit Pasokan Tenaga Kerja
Pemerintahan Trump memperketat kebijakan imigrasi melalui deportasi dan pencabutan status TPS. Kebijakan tersebut berpotensi memperkecil pasokan tenaga kerja di AS.
Para ekonom menilai penyusutan jumlah tenaga kerja membuat jumlah lapangan kerja yang perlu diciptakan ekonomi AS untuk mengimbangi pertumbuhan populasi usia kerja menjadi jauh lebih rendah.
Tingkat break-even employment, yakni jumlah pekerjaan yang perlu ditambahkan setiap bulan agar pasar tenaga kerja tetap seimbang, diperkirakan berada di kisaran nol hingga 50.000 pekerjaan per bulan.
Berkurangnya pasokan tenaga kerja juga dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah pensiun. Kondisi tersebut membantu menjaga tingkat pengangguran tetap rendah.
Meski demikian, sejumlah ekonom memperkirakan tingkat pengangguran dapat meningkat menjadi 4,2% pada Agustus. Salah satu alasannya adalah penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja yang dinilai terlalu besar.
“Partisipasi telah turun satu poin persentase penuh sejak awal tahun, penurunan yang tampaknya berlebihan dibandingkan kondisi pasar tenaga kerja secara lebih luas,” kata Gregory Daco, kepala ekonom EY-Parthenon.
“Penurunan tersebut terutama mencerminkan pertumbuhan populasi yang lebih rendah, demografi yang menua dan meningkatnya jumlah pensiun, serta arus imigrasi yang lebih rendah,” ujarnya.
Data Ketenagakerjaan AS dan Kebijakan The Fed
Laporan ketenagakerjaan Agustus diperkirakan tidak akan secara signifikan memengaruhi keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan kebijakan 15-16 September 2026, selama tidak terjadi guncangan besar.
Perhatian pasar justru diperkirakan beralih ke data inflasi melalui laporan Consumer Price Index (CPI) AS yang akan dirilis pekan berikutnya.
Pasar tenaga kerja juga belum menjadi sumber utama tekanan inflasi. Pertumbuhan upah tahunan diperkirakan melambat menjadi 3,0% pada Agustus dari 3,2% pada Juli.
Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan dalam acara Reuters NEXT Newsmaker pada Kamis bahwa dirinya cenderung mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga pada bulan ini apabila data yang akan datang mengonfirmasi bahwa tekanan inflasi terus mereda.
Di pasar keuangan, peluang kenaikan suku bunga pada September diperkirakan berada di kisaran 50%, turun dari 63,2% pada Rabu berdasarkan CME FedWatch Tool.
Imbal Hasil Obligasi AS Naik, Pasar Properti Tertekan
Kekhawatiran terhadap inflasi serta minimnya panduan kebijakan dari The Fed turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yields).
Kenaikan imbal hasil tersebut menjadi perhatian bagi bank sentral AS karena berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan dan memperlambat aktivitas ekonomi.
Kenaikan imbal hasil Treasury juga mendorong tingkat suku bunga hipotek tetap 30 tahun AS naik menjadi 6,71% pada pekan ini. Berdasarkan data lembaga pembiayaan perumahan Freddie Mac, level tersebut merupakan yang tertinggi dalam lebih dari satu tahun.
Kondisi tersebut berpotensi semakin menekan pasar perumahan AS yang masih menghadapi tekanan.
“Pasar sudah memperhitungkan pengetatan pada kurva imbal hasil; kita mendapatkan pengetatan sebesar 75 basis poin dan hal tersebut akan memperlambat perekonomian,” kata Bethune.
“Salah satu alasan suku bunga jangka panjang meningkat adalah karena pasar memperhitungkan ketidakpastian mengenai apa yang akan dilakukan The Fed. Ketidakpastian tersebut berkaitan dengan intimidasi politik,” lanjutnya.
Dengan demikian, meskipun pasar kerja AS diperkirakan mencatat perbaikan pada Agustus, prospek ekonomi masih menghadapi sejumlah risiko. Perlambatan perekrutan, berkurangnya pasokan tenaga kerja, kebijakan imigrasi, tingginya imbal hasil obligasi, serta ketidakpastian arah kebijakan The Fed menjadi faktor yang perlu diperhatikan pasar dalam beberapa bulan ke depan.











